Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 19 Juli 2013

TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF VYGOTSKY

A.     PENGANTAR
Bernama lengkap Lev Semyonovish Vygotsky (1896-1934). Perkembangan kognitif dan bahasa anak-anak tidak berkembang dalam suatu situasi sosial yang hampa. Lev Vygotsky, seorang psikolog berkebangsaan Rusia, mengenal poin penting tentang pikiran anak ini lebih dari setengah abad yang lalu. Teori Vygotsky mendapat perhatian yang makin besar ketika memasuki akhir abad ke-20.
Sezaman dengan Piaget, Vygotsky menulis di Uni Soviet selama 1920-an dan 1930-an. Namun, karyanya baru dipublikasikan di dunia Barat pada tahun 1960-an. Sejak saat itulah, tulisan-tulisannya menjadi sangat berpengaruh. Vygotsky adalah pengagum Piaget. Walaupun setuju dengan Piaget bahwa perkembangan kognitif terjadi secara bertahap dan dicirikan dengan gaya berpikir yang berbeda-beda, tetapi Vygotsky tidak setuju dengan pandangan Piaget bahwa anak menjelajahi dunianya sendirian dan membentuk gambaran realitas batinnya sendiri.
Karya Vygotsky didasarkan pada tiga ide utama, yaitu :
(1) Intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide baru dan sulit mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang mereka telah ketahui; (2) Interaksi dengan orang lain memperkaya perkembangan intelektual; (3) Peran utama guru adalah bertindak sebagai seorang pembantu dan mediator pembelajaran siswa (Nur, 2000b: 10).
Pandangan yang ditawarkan Vygotsky dan para ahli psikologi kognitif yang lebih mutakhir adalah penting dalam memahami penggunaan-penggunaan strategi belajar karena tiga alasan. Pertama, mereka menggaris bawahi peran penting pengetahuan awal dalam proses belajar. Dua, mereka membantu kita memahami pengetahuan dan perbedaan antara berbagai jenis pengetahuan. Dan tiga, mereka membantu menjelaskan bagaimana pengetahuan diperoleh manusia dan diproses dalam sistem memori otak.

B.     KONSEP SOSIOKULTURAL
Banyak developmentalis yang bekerja di bidang kebudayaan dan pembangunan menemukan dirinya sepaham dengan Vygotsky, yang berfokus pada konteks pembangunan sosial budaya. Teori Vygotsky menawarkan suatu potret perkembangan manusia sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Vygotsky menekankan bagaimana proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran melibatkan pembelajaran menggunakan temuan-temuan masyarakat seperti bahasa, sistem matematika, dan alat-alat ingatan. Ia juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil di dalam bidang-bidang tersebut. Penekanan Vygotsky pada peran kebudayaan dan masyarakat di dalam perkembangan kognitif berbeda dengan gambaran Piaget tentang anak sebagai ilmuwan kecil yang kesepian.
Piaget memandang anak-anak sebagai pembelajaran lewat penemuan individual, sedangkan Vygotsky lebih banyak menekankan peranan orang dewasa dan anak-anak lain dalam memudahkan perkembangan si anak. Menurut Vygotsky, anak-anak lahir dengan fungsi mental yang relatif dasar seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan perhatian. Namun, anak-anak tak banyak memiliki fungsi mental yang lebih tinggi seperti ingatan, berfikir dan menyelesaikan masalah. Fungsi-fungsi mental yang lebih tinggi ini dianggap sebagai ”alat kebudayaan” tempat individu hidup dan  alat-alat itu berasal dari budaya. Alat-alat itu diwariskan pada anak-anak oleh anggota-anggota kebudayaan yang lebih tua  selama pengalaman pembelajaran yang dipandu. Pengalaman dengan orang lain secara berangsur menjadi semakin mendalam dan membentuk gambaran batin anak tentang dunia. Karena itulah berpikir setiap anak dengan cara yang sama dengan anggota lain dalam kebudayaannya.
Vygotsky menekankan baik level konteks sosial yang bersifat institusional maupun level konteks sosial yang bersifat interpersonal. Pada level institusional, sejarah kebudayaan menyediakan organisasi dan alat-alat yang berguna bagi aktivitas kognitif melalui institusi seperti sekolah, penemuan seperti komputer, dan melek huruf. Interaksi institusional memberi kepada anak suatu norma-norma perilaku dan sosial yang luas untuk membimbing hidupnya. Level interpersonal memiliki suatu pengaruh yang lebih langsung pada keberfungsian mental anak. Menurut vygotsky (1962), keterampilan-keterampilan dalam keberfungsian mental berkembang melalui interaksi sosial langsung. Informasi tentang alat-alat, keterampilan-keterampilan dan hubungan-hubungan interpersonal kognitif dipancarkan melalui interaksi langsung dengan manusia. Melalui pengorganisasian pengalaman-pengalaman interaksi sosial yang berada di dalam suatu latar belakang kebudayaan ini, perkembangan mental anak-anak menjadi matang.

C.     PERKEMBANGAN BAHASA
Para pakar perilaku memandang bahasa sama seperti perilaku lainnya, misalnya duduk, berjalan, atau berlari. Mereka berpendapat bahwa bahasa hanya merupakan urutan respons (Skinner,1957) atau sebuah imitasi (Bandura, 1977). Tetapi banyak diantara kalimat yang kita hasilkan adalah baru, kita tidak mendengarnya atau membicarakannya sebelumnya.
Kita tidak mempelajari bahasa di dalam suatu ”ruang hampa sosial” (social vacuum). Kebanyakan anak-anak diajari bahasa sejak usia yang sangat muda. Kita memerlukan pengenalan kepada bahasa yang lebih dini untuk memperoleh keterampilan bahasa yang baik (Adamson,1992; Schegloff,1989). Dewasa ini, kebanyakan peneliti penguasaan bahasa yakin bahwa anak-anak dari berbagai konteks sosial yang luas menguasai bahasa ibu mereka tanpa diajarkan secara khusus dan dalam beberapa kasus tanpa penguatan yang jelas ( Rice,1993). Dengan demikian aspek yang penting dalam mempelajari suatu bahasa tampaknya tidaklah banyak. Walaupun begitu, proses pembelajaran bahasa biasanya memerlukan lebih banyak dukungan dan keterlibatan dari pengasuh dan guru. Suatu peran lingkungan yang membangkitkan rasa ingin tahu dalam penguasaan bahasa pada anak kecil disebut motherese, yakni cara ibu dan orang dewasa sering berbicara pada bayi dengan frekuensi dan hubungan yang lebih luas dari pada normal, dan dengan kalimat-kalimat yang sederhana.
Bahasa dipahami dalam suatu urutan tertentu. Pada setiap tahap di dalam tahap perkembangan, interaksi linguistik anak dengan orang tua dan orang lain pada dasarnya mengikuti suatu prinsip tertentu (Conti-Ramsden & Snow, 1991; Maratsos, 1991). Perkembangan pemahaman bahasa pada anak bukan saja sangat dipengaruhi oleh kondisi biologis anak, tetapi lingkungan bahasa di sekitar anak sejak usia dini jauh lebih penting dibandingkan dengan apa yang diperkirakan di masa lalu ( Von Tetzchner & Siegel, 1989).
Vygotsky lebih banyak menekankan bahasa dalam perkembangan kognitif daripada Piaget. Bagi Piaget, bahasa baru tampil ketika anak sudah mencapai tahap perkembangan yang cukup maju. Pengalaman berbahasa anak tergantung pada tahap perkembangan kognitif saat itu. Namun, bagi Vygotsky, bahasa berkembang dari interaksi sosial dengan orang lain. Awalnya, satu-satunya fungsi bahasa adalah komunikasi. Bahasa dan pemikiran berkembang sendiri, tetapi selanjutnya anak mendalami bahasa dan belajar menggunakannya sebagai alat untuk membantu memecahkan masalah. Dalam tahap praoperasional, ketika anak belajar menggunakan bahasa untuk menyelesaikan masalah, mereka berbicara lantang sembari menyelesaikan masalah. Sebaliknya, begitu menginjak tahap operasional konkret, percakapan batiniah tidak terdengar lagi.
a.      Elaborasi Tahap-tahap Brown
-          Tahap 1 berlangsung sejak usia 12 – 26 bulan MLU (Mean Length of Utterance), panjang rata-rata pengucapan ialah 1,00 – 2,00. Perbendaharaan kata utamanya terdiri atas kata benda dan kata kerja dengan sedikit kata sifat dan kata bantu. Kalimat khasnya adalah “Dada mama”, “Dada papa” dan “Anjing besar”.
-          Tahap 2 berlangsung sejak usia 27 hingga 30 bulan MLU-nya ialah 2,00 – 2,50. Kata-kata majemuk terbentuk secara tepat. Kalimat khasnya adalah “Boneka tidur”, “Mereka cantik”, dan “Susu Habis”.
-          Tahap 3 berlangsung sejak usia 31 – 34 bulan MLU-nya ialah 2,50 – 3,00. Pertanyaa-pertanyaan “iya-tidak” mulai muncul. Kalimat khasnya “Ayah pulang?”.
-          Tahap 4 berlangsung sejak usia 35 – 40 bulan MLU-nya adalah 3,00 – 3,75. Suatu kalimat kadang-kadang terkait dengan kalimat lain. kalimat khasnya “Ku kira itu merah”.
-          Tahap 5 berlangsung sejak usia 41 – 46 bulan MLU-nyaaa   ialah 3,75 – 4,5. Kalimat-kalimat sederhana dan hubungan-hubungan proposisi terkoordinasi. Kalimat khasnya “Aku ke rumah Bob dan makan es krim”.

b.      Sistem Aturan
Bahasa terdiri dari sistem aturan seperti morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik.

D.     ZONA PERKEMBANGAN PROKSIMAL
Meskipun pada akhirnya anak-anak akan mempelajari sendiri beberapa konsep melalui pengalaman sehari-hari, Vygotsky percaya bahwa anak akan jauh lebih berkembang jika berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tidak akan pernah mengembangkan pemikiran operasional formal tanpa bantuan orang lain.
Pada satu sisi, Piaget menjelaskan proses perkembangan kognitif sejalan dengan kemajuan anak-anak, dan dia menggambarkan bahwa  anak-anak mampu melakukan sesuatu sendiri. Pada sisi lain, Vygotsky mencari pengertian bagaiman anak-anak berkembang dengan melalui proses belajar, dimana fungsi-fungsi kognitif belum matang, tetapi masih dalam proses pematangan. Vygotsky membedakan antara aktual development dan potensial development pada anak. Aktual development ditentukan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa atau guru. Sedangkan potensial development membedakan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu, memecahkan masalah di bawah petunjuk orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya.
Menurut teori Vygotsky, Zona Perkembangan Proksimal merupakan celah antara actual development dan potensial development, dimana antara apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya.
Maksud dari ZPD adalah menitikberatkan ZPD pada interaksi sosial akan dapat memudahkan perkembangan anak. Ketika siswa mengerjakan pekerjaanya di sekolah sendiri, perkembangan mereka kemungkinan akan berjalan lambat. Untuk memaksimalkan perkembangan, siswa seharusnya bekerja dengan teman yang lebih terampil yang dapat memimpin secara sistematis dalam memecahkan masalah yang lebih kompleks. Melalui perubahan yang berturut-turut dalam berbicara dan bersikap, siswa mendiskusikan pengertian barunya dengan temannya kemudian mencocokkan dan mendalami kemudian menggunakannya. Sebuah konsekuensi pada proses ini adalah bahwa siswa belajar untuk pengaturan sendiri (self-regulasi).
E.      KONSEP SCAFFOLDING
Scaffolding merupakan suatu istilah yang ditemukan oleh seorang ahli psikologi perkembangan-kognitif masa kini, Jerome Bruner, yakni suatu proses yang digunakan orang dewasa untuk menuntun anak-anak melalui zona perkembangan proksimalnya.
Pengaruh karya Vygotsky dan Bruner terhadap dunia pengajaran dijabarkan oleh Smith et al. (1998).
1.      Walaupun Vygotsky dan Bruner telah mengusulkan peranan yang lebih penting bagi orang dewasa dalam pembelajaran anak-anak daripad peran yang diusulkan Piaget, keduanya tidak mendukung pengajaran didaktis diganti sepenuhnya. Sebaliknya mereka malah menyatakan, walaupun anak tetap dilibatkan dalam pembelajaran aktif, guru harus secara aktif mendampingi setiap kegiatan anak-anak. Dalam istilah teoritis, ini berarti anak-anak bekerja dalam zona perkembangan proksimal dan guru menyediakan scaffolding bagi anak selama melalui  ZPD.
2.      Secara khusus Vygotsky mengemukakan bahwa disamping guru, teman sebaya juga berpengaruh penting pada perkembangan kognitif anak.berlawanan dengan pembelajaran lewat penemuan individu (individual discovery learning), kerja kelompok secara kooperatif ( cooperative groupwork) tampaknya mempercepat perkembangan anak.
3.      Gagasan tentang kelompok kerja kreatif ini diperluasa menjadi pengajaran pribadi oleh teman sebaya ( peer tutoring), yaitu seorang anak mengajari anak lainnya yang agak tertinggal dalam pelajaran. Foot et al. (1990) menjelaskan keberhasilan pengajaran oleh teman sebaya ini dengan menggunakan teori Vygotsky. Satu anak bisa lebih efektif membimbing anak lainnya melewati ZPD karena mereka sendiri baru saja melewati tahap itu sehingga bis adengan mudah melihat kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak lain dan menyediakan scaffolding yang sesuai.
Komputer juga dapat digunakan untuk meningkatkan pembelajaran dalam berbagai cara. Dari perspektif pengikut Vygotsky-Bruner, perintah-perintah di layar komputer merupakan scaffolding ( Crook, 1994). Ketika anak menggunakan perangkat lunak (software) pendidikan, komputer memberikan bantuan atau petunjuk secara detail seperti yang diisyaratkan sesuai dengan kedudukan anak yang sedang dalam ZPD. Tak pelak lagi, beberapa anak di kelas lebih terampil dalam menggunakan komputer sehingga bisa berperan sebagai tutor bagi teman sebayanya. Dengan murid-murid yang bekerja dengan komputer, guru bisa dengan bebas mencurahkan perhatinnya kepada individu-individu yang memerlukan bantuan dan menyiapkan scaffolding yang sesuai bagi masing-masing anak.

F.      KONSTRUKTIVISME
Pendekatan konstruktivisme pada pendidikan berusaha merubah pendidikan dari dominasi guru menjadi pemusatan pada siswa. Peranan guru adalah membantu siswa mengembangkan pengertian baru. Siswa diajarkan bagaimana mengasimilasi pengalamn, pengetahuan, dan pengertiannya dan apakah mereka siap untuk tahu dari pembentukan pengertian baru ini. Pada bagian ini, kita melihat permulaan aliran konstruktivisme , peranan pengalaman siswa dalam belajar dan bagaiman dapat mengasimilasi pengertiannya.
Konstruktivisme adalah suatu teori belajar yang mempunyai suatu pedoman dalam filosofi dan antropologi sebaik psikologi. Pedoman filosofi pada teori ni ditemukan pada abad ke-5 sebelum masehi. Ketika Socrates memajukan pemikiran dari level sophist oleh metode perkembangan sistematis yang ditemukan melalui gabungan antara pertanyaan dan alasan logika. Metode baru ini yang mengkontribusi secara besar-besaran untuk memajukan aspek pemecahan masalah aliran konstruktivisme.
Penyelidikan atau pengalaman fisik, pengalaman pendidikan adalah kunci metode konstruktivisme. Selama abad ke-18 dan ke-17, filosof Inggris ” Frances Bacon” memberikan ilmu metode untuk menyelidiki lingkungan. 
Pendukung konstruktivisme percaya bahwa pengalaman melalui lingkungan, kita akan mengikat informasi yang kita peroleh dari pengalaman ini ke dalam pengertian sebelumnya, membentuk pengertian baru. Dengan kata lain, pada proses belajar masing-masing pelajar harus mengkreasikan pengetahuannya. Pada konstruktivis, kegiatan mengajar adalah proses membantu pelajar-pelajar mengkreasikan pengetahuannya. Konstruktivisme percaya bahwa pengetahuan tidak hanya kegiatan penemuan yang memungkinkan untuk dimengerti, tetapi pengetahuan merupakan cara suatu informasi baru berinteraksi dengan pengertian sebelumnya dari pelajar.
Para konstruktivisme menekankan peranan motivasi guru untuk membantu siswa belajar mencintai pelajaran. Tidak seprti behaviorist, yang menggunakan sangsi berupa reward, sedangkan konstruktivisme percaya bahwa motivasi internal, seperti kesenangan pada pelajaran lebih kuat daripada reward eksternal.
Konstruktivisme yang mempunyai pengaruh besar pada tahun 1930 yang bekerja sebagai ahli Psikologi Rusia adalah L.S. Vygotsky, yang sangat tertarik pada efek interaksi siswa dengan teman sekelas pada pelajaran. Jaramillo (1996) menjelaskan, Vygotsky mencatat bahwa interaksi individu dengan orang lain berlangsung pada situasi sosial. Vygotsky percaya bahwa subyek yang dipelajari berpengaruh pada proses belajar, dan mengakui bahwa tiap-tiap disiplin ilmu mempunyai metode pembelajaran tersendiri. Vygotsky adalah seorang guru yang tertarik untuk mendesign kurikulum sebagai fasilitas dalam interaksi siswa. 


G. MEDIASI

Mediator yang diperankan lewat tanda atau lambang adalah kunci utama memahami proses-proses sosial dan psikologis. Oleh karena itu, jika dikaji lebih mendalam teori perkembangan Vygotsky akan ditemukan dua jenis mediasi, yaitu : (1) Mediasi Metakognitif dan (2) Mediasi Kognitif.

Media Metakognitif adalah penggunaan alat-alat seimiotic yang bertujuan untuk melakukan self regulation (pengaturan diri) yang mencakup self planning, self monitoring, self checking, dan self evaluation.

Langkah pertama dari pengaturan diri dan pemikiran mandiri adalah mempelajari bahwa segala sesuatu memiliki makna. Langkah kedua dalam pengembangan struktur-struktur internal dan pengaturan diri adalah latihan. Siswa berlatih gerak-gerak isyarat yang akan mendatangkan perhatian. Kemudian langkah terakhir termasuk penggunaan isyarat dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain.
Media Kognitif adalah penggunaan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan pengetahuan tertentu. Sehingga media ini bisa berhubungan konsep spontan (yang bisa salah) dan konsep ilmiah (yang lebih terjamin kebenarannya).

Menurut Vygotsky, untuk membantu anak mengembangkan pengetahuan yang benar-benar bermakna adalah dengan cara memadukan antar konsep-konsep dan prosedur melalui demonstrasi dan praktik.


H. PERBANDINGAN TEORI VYGOTSKY DENGAN PIAGET



Vygostky
Piaget
Konteks sosialkultural
Penekanannya kuat
Penekanannya lemah
Konstruktifisme
Konstruk sosial
Konstruk kognitif
Tahapan
Tidak ada tahapan yang umum dari rancangan perkembangan
Penekanan yang kuat pada tingkatan (sensorimotor, preoperasional, operasional nyata, dan operasional formal)
Proses Kunci
Perkembangan proximal, bahasa, dialog, dan alat kebudayaan.
Skema, asimilasi, akomodasi, operasi, konservasi, klasifikasi, hipotesis dari penalaran deduktif,
Peran Bahasa
Peran utama;  bahasa memiliki peran yang kuat dalam membentuk pikiran
Bahasa yang memiliki peran minimal, kognisi membentuk/mengatur bahasa
Pandangan tentang Pendidikan
Pendidikan memainkan peran utama, membantu anak-anak belajar alat kebudayaan.
Pendidikan hanya memperbaiki keterampilan kognisi anak yang telah muncul
Implikasi Guru
guru adalah fasilisator dan pembimbing bukan sebagai pengarah; membuktikan bahwa terdapat banyak kesempatan untuk anak-anak belajar dengan guru dan lebih banyak keterampilan yang muncul.
Juga melihat pandangan guru sebagai fasilisator dan pembimbing, bukan sebagai pengarah mengembangkan dukungan untuk anak-anak bereksplorasi dengan dunia mereka dan pengetahuan yang belum diketahui




Senin, 15 Juli 2013

Penjelasan tentang lupa

lupa adalah hal yang lumrah dimiliki oleh manusia, bahkan lupa adalah suatu anugrah tersendiri dari Allah, hikmah yang terdapat dari lupa adalah kita tidak perlu dibayangi-bayangi kesalahan kita di masa lalu, atau yang berusan terjadi, coba bayangkan jika kita tidak diberikan sifat lupa maka dalam kegiatan-kegiatan kita sehari-hari bisa jadi menyuramkan dan tidak bersemangat karena dihantui oleh rasa bersalah atas kesalahan yang pernah kita lakukan.
namun disisi lain lupa juga menjadi kelemahan kita, karena dengan sifat lupa ini kita sering kali melewatkan hal-hal yang penting atau informasi-informasi yang perlu untuk kita ingat.
dalam pendekatan psikologi ada beberapa penjelasan mengapa seseorang dapat mengalami kelupaan Berikut ada beberapa penjelasannya :

1. Decay Theory
seseorang bisa lupa dan susah untuk mengambil informasi yang pernah disimpan, karena informasi tersebut jarang diulang, sehingga menyebabkan memori itu menjadi aus dan lama-kelamaan bisa menjadi hilang.

2. Interfernce Theory
seseorang bisa saja lupa yang diakibatkan oleh terganggunya informasi yang lama (yang sudah disimpan di memori) oleh informasi baru yang kita ingat. atau sebaliknya informasi yang lama menggangu sehingga membuat kita sulit untuk mengingat hal yang baru

3. Retrieval Failure
seseorang mengalami kelupaan karena kegagalannya untuk mengingat suatu informasi yang diakibatkan karena kurangnya cue, atau pun coding yang sesuai dengan memori.

4. Motivated Failure
seseorang akan cenderung melupakan hal-hal yang tidak menyenagkan bagi dirinya, artinya ini adalah kelupaan yang disengaja.

5. gangguan fisiologis
seseorang akan mengalami disebabkan oleh adanya kerusakan atau perubahan yang terjadi diotaknya. bisa saja karena akibat trauma kecelakaan sehingga menyebabkan seseorang menjadi amnesia.

Neuron dan Obat

Didalam otak kita terdapat sistem saraf yang bekerja dan aktif setiap kali kita melakukan aktifitas tertentu. Sistem saraf di otak bekerja melalui proses pengiriman sinyal-sinyal listrik kimiawi yang saling terhubung antar neuron, Proses ini dinamakan dengan synaps. Sinyal-sinyal listrik kimiawi ini lebih dikenal sebagai neurotransmitter yang berupa molekul yang dilepaskan oleh ujung akson neuron yang selanjutnya akan menyebrangi celah sinaptik untuk berikatan pada molekul resptor penerima yang ada di membran neuron penerima. Proses ini terjadi dengan begitu cepatnya variasinya mulai 2 – 200 mil per jam.
Aksi synaps yang terjadi antara neurotranmitter yang dilepaskan dengan molekul reseptor dianalogikan seperti anak kunci dengan kuncinya, sehingga sebuah neuransmitter yang diterima oleh sebuah reseptor akan mengubah sifat listrik sel neuron tersebut, bisa berakibat inhibisi atau ekshibisi.
Sehingga untuk menjalankan fungsinya sebuah neurotransmitter membutuhkan reseptor, proses ini terjadi setiap kali kita melakukan aktifitas misalnya ketika kita melakukan pekerjaan yang kita senangi, salah satu neurotrasmitter yang terkenal untuk rasa senang adalah dopamin, neuron akan memproduksi dopamin yang nantinya akan disembrangkan agar sampai ke reseptor yang membuat meningkatnya aktifitas sel dan proses ini terjadi secara berkelanjutan. Hal inilah yang membuat kita lebih bersemangat melakukan aktifitas ketika dalam keadaan senang.
Namun seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan di bidang obat-obatan, ditemukan beberapa obat-obatan yang dapat beriteraksi dengan molekul reseptor dengan cara yang mirip dengan neurotransmitter. Molekul obat tersebut mirip dengan molekul neurotransmitter, sehinggga obat-obatan ini seolah menjadi anak kunci untuk reseptor. Diantara jenis obat-obatan tersebut antara lain: trankuiliser (obat penenang) sampai obat jalanan seperti heroin dan crack.

Contoh yang baik dari molekul “anak kunci palsu” itu adalah opiat, obat yang termasuk kedalam kelompok heroin dan morphine. Zat opiat ini mirip dengan kelompok neurotransmitter di otak yang dinamakan endorfin, yang memiliki efek menghambat nyeri. 

Sabtu, 13 Juli 2013

Perbedaan CCT dan IRT (item response theory)

Dalam hal pengukuran dikenal sebuah model yaitu berupa model teori tes klasik atau yang lebih dikenal dengan CCT, yaitu sebuah model yang digunakan untuk mementukan kemapuan seseorang berdasarkan total skor yang dia dapatkan di dalam sebuah tes dijadikan dasar patokan untuk menentukan kemampuan seseorang, dan dalam pengkajian berikutnya hal ini ditemukan banyak kelemahan diantaranya :
  1. Model pengukuran cct sangat bergantung pada sampel, sehingga jika sebuah tes dilakukan pada kelompok a beberapa soal yang sulit justru mudha ketika diujikan pada kelompok B, hal ini sangat mungkin terjadi.
  2. Model pengukuran lama tidak memperhitungkan tingkat kesukaran sebuah item, karena dasar asumsi pada teori CCt bahwa semua item paralel (artinya memiliki indeks daya beda dan tingkat kesukaran yang sama).
  3. Dalam model pengukuran CCT kemampuan para pekerja test tidak diperhitungkan karana pada dasarnya setiap orang memiliki kemapuan yang berbeda.
  4. Satu lagi dalam model CCt standard error (SEM) yang ada ditentukan untuk sekalian test sehingga SEM sifatnya global.

 Selanjutnya diajukan lah sebuah teori yang dikenal dengan IRT (item respon teory) yang diajukan oleh seorang kebangsaan denmark untuk mengukur kemampuan seseorang dalam suatu test. Dalam teori IRT sebuah test dinilai berdasarkan masing-masing item. Sehingga setiap item memiliki tingkat kesukaran yang berbeda-beda, dan dalam IRT juga di perhitungkan tingkat kemampuan seseorang.

"Dengan δ= tingkat kesukaran soal, dan θ = tingkat kemampuan seseorang."

Asumsi yang ada dalam IRT menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan lebih besar dari tingkat kesukaran suatu soal akan memiliki peluang yang lebih besar untuk menjawab benar pada soal tersebut. Kita coba ilustrasikan, jika katakan lah orang A, memiliki kemampuan “5” dan hendak diberikan satu atau lebih banyak soal yang tingkat kesulitan dibawah “5”, maka si A akan memiliki peluang yang lebih besar untuk menjawab pada soal-soal tersebut.

Sebaliknya jika seseorang memiliki tingkat kemampuan lebih kecil dari pada tingkat kesukaran soal, maka peluang dia bisa menjawab benar pada soal tersebut lebih rendah.
Dan orang yang memiliki tingkat kemampuan yang sama dengan tingkat kesukaran soal akan memiliki peluang 0.5 untuk menjawab benar pada soal tersebut.
Maka dari itu, model IRT hadir sebagai pelngkap bagi model sebelumnya yaitu CCT, dalam model IRT ini setiap masing-masing item memiliki tingkat kesukaran yang memang berbeda sesuai dengan fakta yang ada, sehingga bisa ditentukan kemampuan peserta tes berdasarkan soal mana yang bisa dijawabnya.
Coba kita ilustrasikan jika sebuah sebuah tes terdiri dari 3 buah soal yang berbeda, soal itu soal 1 yang paling mudah, soal 2 sedang, soal 3 yang sulit. Lalu ke 3 soal itu diujikan pada 3 orang.
Dan menurut teori IRT jika misalnya orang A menjawab benar 2 soal (skor 2), soal tesbut adalah soal yang mudah dan sedang, sedangkan orang B sama-sama menjawab benar 2 soal, namun dia menjawab benar pada soal yang sedang dan sulit, maka bisa disimpulkan bahwa kemampuan orang B lebih tinggi dari pada orang A. Nah hal ini berbeda dengan Asumsi pada CCT yang akan menilai sama kemampuan orang yang A dan B karena sama-sama mendapatkan skor 2.
hasil dari perhitungan berdasarkan model IRT akan diperoleh kurva yang bisa dijadikan patokan untuk menentukan atau meramalkan peluang seseroang untuk menjawab benar pada item tertentu.
dari kurva diatas dapat diramalakan orang yang memiliki kemapuan yang berada dibawah 1 memiliki peluang yang lebih rendah untuk menjawab benar pada soal tersebut.
dan satu hal lagi yang menjadi kelebihan IRT bahwa Standrand error ditentukan pada masing-masing item. sehingga tiap item memiliki nilai error yang berbeda.

Selasa, 11 Juni 2013

Religiusitas (religiousness) fetzer

            RELEGIUSSITAS
1.2. .    Definisi Religiussitas
Menurut Fetzer (1999), Religiusitas adalah seberapa kuat individu penganut agama merasakan pengalaman beragama sehari-hari (Daily Spiritual Exprerience), mengalami kebermaknaan hidup dalam beragama (Religion Meaning), mengekspresikan keagamaan sebagai sebuah nilai (Value), meyakini ajaran agamanya (Belief), memaafkan (forgiveness), melakukan praktek agama secara menyendiri (private religious practice), menggunakan agama sebagai coping (religious/spiritual coping), mendapat dukungan penganut sesama agama (religious support), mengalami sejarah keberagamaan (religious/ spiritual history), komitmen beragama (commitment), mengikuti organisasi atau kegiatan keagamaan (organizational religiousness) dan meyakini pilihan agamanya (religious preferences).

1.2. .    Perkembangan self-control
Kemampuan mengontrol diri berkembang seiring dengan bertambahnya usia. Salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok darinya dan membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial tanpa harus dibimbing, diawasi, didorong dan diancam seperti hukuman sebagaimana yang dialami pada masa kanak-kanak (Rohilah, 2007).
Delay of gratification, istilah yang diberikan Berndt (1992) pada suatu prosedur yang digunakan oleh anak ketika dihadapkan pada dua perilaku yang sama memberikan ganjaran. Anak belajar menunda kepuasan dengan melewatkan segera yang lebih kecil dan memutuskan untuk menunggu ganjaran yang lebih besar (Santrock. John W. 2003.).
Menurut Hurlock (1980), tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan pola perilaku anak. Bagi remaja yang sangat mendambakan kemandirian, usaha untuk mandiri secara emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lain. Namun, kemandirian emosi tidaklah sama dengan kemandirian perilaku. Banyak remaja yang ingin mandiri dan membutuhkan rasa aman yang diperoleh dari ketergantungan emosi pada orang tua atau orang dewasa lainnya.
Sekolah dan perguruan tinggi menekankan perkembangan keterampilan intelektual dan konsep yang penting bagi kecakapan sosial Namun, hanya sedikit remaja yang mampu menggunakan keterampilan dan konsep dalam situasi praktis. (Hurlock, 1980).
Erat hubungannya dengan masalah pengembangan nilai-nilai yang selaras dengan dunia nilai orang dewasa yang akan dimasuki adalah tugas untuk mengembangkan perilaku sosial yang bertanggung jawab. Ketika seorang individu mulai memasuki masa dewasa akan mampu menjadi individu yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat (Hurlock, 1980).

1.2. .    Aspek-aspek/dimensi-dimensi self-control
Menurut Fetzer (1999), ada 12 dimensi religiusitas (dalam Multidimensional Measurement of Religiuosness Spritually  for Use in Health Research).

  1. Daily spiritual exprerience      : persepsi individu terhadap sesuatu yang berkaitan dengan transenden dalam kehidupan sehari-hari dan persepsi terhadap interaksinya pada kehidupan tersebut.
  2. Meaning          : berkaitan dengan sejauh mana agama dapat menjadi tujuan hidupnya.
  3. Value               : pengaruh keimanan terhadap nilai-nilai hidup seperti mengajarkan tentang nilai cinta, saling menolong, dsb.
  4. Belief               : religiousitas merupakan keyakinan akan konsep-konsep yang dibawa oleh agama.
  5. Forgiveness     : mencakup lima dimensi turunan yaitu : pengakuan dosa, merasa diampuni tuhan, merasa dimaafkan oleh orang lain, dan memaafkan diri sendiri.
  6. Private religious practice        : merupakan perilaku beragama dalam mempelajari agama meliputi ibadah, mempelajari kitab dan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan religiusitasnya.
  7. Religiusitas coping                  : merupakan coping stress dengan menggunakan pola dan metode religious seperti berdoa dan beribadah untuk menghilangkan stress.
  8. Religious spritual support        : aspek hubungan sosial antar individu dengan pemeluk agama sesamanya (ukhuwah islamiyah).
  9. Religious/ spiritual history :  terdapat 4 aspek yang berkaitan dengan sejarah keberagamaan seseorang, biografi keagamaan, pertanyaan mengenai sejarah jkeagamnaan, pengalamana keagamaan yang mengubah hidup dan kematangan spirutual.
  10. Commitment     : seberapa penting individu mementingkan agamanya, komitmen dan kontribusi kepada agamanya.
  11. Organizational religiousness : konsep yang mengukur seberapa jauh individu iktu serta dalam lembaga keagamaan yang ada di masyarakat dan beraktifitas di dalamnya.

Sabtu, 18 Mei 2013

OBJECT RELATIONS THEORY AND SELF (teori Kepribadian)

TEORI OBYEK RELASI DAN DIRI
Selama beberapa dekade, teori psikodinamik dan prakteknya telah mengalami transformasi penting. Sementara banyak psikolog tetap dalam kerangka dasar psikoanalitik, banyak yang bergerak jauh melampaui Freud dan pengikutnya langsung. Penemuan baru ini lebih lanjut mengubah cara mereka berpikir tentang kepribadian, akar kesehatan mental dan cara untuk membantu mereka yang bermasalah.
Orientasi dasar dari pendekatan ini telah muncul dengan jelas dalam kajian integratif saat ini. Ada variasi yang berbeda dalam pergeseran ini. Pemimpin yang termasuk psikoanalis seperti Melanie Klein (salah satu penemu paling awal) di Inggris dan lainnya baru-baru ini, Otto Kerberg dan Heinz Kohut di Amerika. Pada bagian ini kita akan menekankan perubahan tema umum yang tampak pada ciri gerakan ini.
Pendekatan ini disebut teori relasi objek dan terapi, dan poin pertama yang harus diperhatikan adalah bahwa “objek” dalam bahasa teori ini adalah manusia sederhana lainnya. Objek panjang merupakan sisa dari psikoanalisis klasik, dan frasa "orang lain yang signifikan" pada dasarnya bisa pengganti untuk itu. Pergeseran penting dari psikoanalisis klasik ke objek teori hubungan adalah bahwa sementara mantan terfokus pada drive insting, yang terakhir berfokus pada hubungan dengan orang lain yang signifikan.



Teori relasi objek adalah teori psikodinamik dalam psikologi psikoanalitik. Teori ini menjelaskan proses pengembangan pikiran sebagai salah satu perkembangan dalam hubungannya dengan orang lain di lingkungan. Relasi Objek pada awalnya terbentuk selama interaksi awal dengan pemberi perawatan primer. Pola-pola awal dapat diubah dengan pengalaman, tetapi sering terus mengerahkan pengaruh yang kuat sepanjang hidup.
Istilah " teori relasi objek " secara resmi diciptakan oleh Ronald Fairbairn pada tahun 1952, tetapi garis pemikiran yang dimaksud adalah aktif dalam pembentukan psikoanalisis dari 1917 dan seterusnya. Teori relasi objek secara aktif dipelopori sepanjang 1940-an dan 50-an oleh psikolog Inggris Ronald Fairbairn, Melanie Klein, Donald Winnicott, Harry Guntrip, Stuart Scott, dan lain-lain.
Ketika Fairbairn menciptakan istilah "relations object," pekerjaan Melanie Klein cenderung menjadi paling sering diidentifikasi dengan istilah " teori relasi objek " dan "relasi objek Inggris," setidaknya semasa di Amerika Utara, meskipun pengaruh 'apa yang dikenal sebagai dari perspektif independen Inggris , yang berpendapat bahwa motivasi utama anak adalah mencari obyek daripada gratifikasi drive ' menjadi semakin diakui. Tapi tidak seperti Fairbairn, Klein selalu menyatakan bahwa dia tidak bermula dari teori Freudian, tetapi hanya menguraikan fenomena perkembangan awal yang konsisten dengan teori Freudian.

Objek yang paling penting untuk mengembangkan anak secara umum, dan mengesankan adalah ibu. Hal ini dalam hubungan anak kecil dengan ibunya bahwa relasional diri mulai berasal dan muncul. Perhatikan bahwa diri ini didefinisikan dari awal dalam hal relasional atau interpersonal.
Teori object relations merupakan turunan dari teori instink dari Freud namun terdapat tiga perbedaan :
1.    Teori object relations memberi penekanan yang lebih kecil pada dorongan-dorongan biologis dan lebih menekankan pada pola-pola relasi interpersonal yang konsisten. 
2.    Teori Freud lebih bersifat paternalistik yang menekankan power dan kontrol ayah, sementara teori object relations cenderung lebih bersifat maternal, menekankan peran ibu yang berelasi secara akrab dan mengasuh. 
3.    Para ahli teori object relations  memandang kontak dan relasi antar manusia – bukannya kenikmatan seksual – sebagai motif dasar dari perilaku manusia.

Bagian penting dari setiap relasi ialah representasi psikis internal dari obyek yang signifikan (penting) di usia dini, seperti buah dada ibu atau penis ayah, yang dimasukkan ke dalam struktur psikis bayi, dan kemudian diproyeksikan ke mitra relasinya. 
Gambaran internal ini bukan merupakan representasi akurat tentang orang lain yang signifikan itu melainkan merupakan sisa-sisa pengalaman masa dini individu.

Objek pada awalnya dipahami dalam pikiran bayi dengan fungsi mereka dan disebut "objek bagian." Buah dada yang memberi makan bayi lapar adalah "buah dada yang baik." Bayi lapar yang tidak menemukan buah dada hubungannya dengan "buah dada buruk."
Objek internal dibentuk oleh pola-pola yang muncul berulang-ulang dalam satu pengalaman subjektif dari menjaga lingkungan. Gambar-gambar ini mungkin diinternalisasikan atau mungkin tidak representasi akurat, yang lain yang sebenarnya eksternal. Dengan lingkungan yang "cukup baik" "memfasilitasi" bagian fungsi objek akhirnya berubah menjadi sebuah pemahaman seluruh objek. Hal ini terkait dengan kemampuan untuk mentoleransi ambiguitas, untuk melihat bahwa baik "baik" dan "buruk" payudara adalah bagian yang sama "ibu."

Simak
Baca secara fonetik
Simak
Baca secara fonetik

Memisahkan (Splitting) Baik Buruk
Dalam teori psikodinamik, salah satu yang pertama untuk mengatasi hubungan ibu-anak sangat mendalam adalah Melanie Klein, seorang psikoanalis Inggris yang sejaman dengan Freud. Tema yang masih bertahan dari pekerjaan Klein adalah pengamatan klinis bahwa dunia menjadi baik dan buruk. Klein melihat konflik inti sepanjang hidup sebagai perjuangan antara perasaan positif cinta dan perasaan negatif dari kebencian. Wawasannya bahwa dalam konflik ini orang cenderung untuk "split” atau membagi dunia menjadi komponen murah hati dan jahat.
Splitting yaitu memisahkan impuls-impuls yang tidak selaras.  Dalam rangka memisahkan obyek-obyek yang baik dari yang buruk, ego sendiri harus dipisahkan.  Jadi bayi mengembangkan suatu gambaran tentang “good me” maupun “bad me” yang memungkinkannya untuk menangani impuls-impuls yang menyenangkan (pleasurable) maupun yang destruktif terhadap obyek-obyek eksternal.
Splitting dapat memiliki dampak positif maupun negatif terhadap anak.  Bila splitting tidak ekstrim dan kaku, dapat menjadi mekanisme pertahanan diri yang positif dan bermanfaat bukan hanya bagi bayi melainkan juga bagi orang dewasa.
Splitting ini memungkinkan individu untuk melihat aspek-aspek positif maupun negatif dari dirinya, untuk mengevaluasi perilakunya baik atau buruk, dan membedakan antara teman-teman yang disukai dan yang tidak disukai. 
Sebaliknya, splitting yang berlebihan dan tidak fleksibel dapat mengarah pada represi yang patologik. Misalnya bila ego anak terlalu kaku untuk memisahkan segala sesuatunya ke dalam good me dan bad me, anak tidak dapat mengintroyeksi pengalaman-pengalaman buruk ke dalam ego yang baik.  Bila anak tidak dapat menerima perilaku buruknya, ia kemudian harus menangani impuls-impuls destruktif dan menakutkan dengan merepresnya.

Salah satu asumsi dasar Klein ialah bayi, sejak baru dilahirkan, memiliki kehidupan phantasi yang aktif.  Phantasi-phantasi ini merupakan representasi psikis dari insting id yang tidak disadari. Phantasi ini tidak sama dengan fantasi-fantasi sadar yang dimiliki anak-anak yang lebih besar atau orang dewasa. Ia hanya memaksudkan bahwa bayi memiliki citra-tak-sadar tentang “baik” dan “buruk.” 
Klein berbicara tentang payudara baik yang bergizi dan payudara buruk yang kosong dalam penggambaran konflik anak yang sarat dengan ibunya. Gagasan ini menyisakan dalam berbagai gagasan psikodinamik kontemporer tentang penggambaran diri "baik" dan "buruk", penggambaran internal dari diri dan orang lain.
Contohnya, bayi yang tertidur dengan mengisap jarinya adalah sedang berphantasi memiliki buah dada ibunya yang baik di dalam dirinya.  Demikian pula, bayi yang lapar dan menangis serta menendang-nendangkan kakinya sedang berphantasi menendang atau menghancurkan buah dada yang buruk.
Dengan semakin matangnya bayi, phantasi-phantasi tak sadar tentang buah dada terus berlanjut memberi dampak terhadap kehidupan psikis namun phantasi-phantasi yang baru juga mucul.  Phantasi-phantasi tak sadar yang muncul belakangan ini dipengaruhi oleh realitas maupun predisposisi bawaan.
Ini adalah bagian dari keyakinan bahwa dari masa kanak-kanak di sana kecenderungan untuk entah bagaimana "split" atau pemisahan pengalaman baik-buruk, hubungan kepuasan-frustrasi (Cahdan, 1988) memecah-belah daripada mengintegrasikan mereka ke dalam satu kesatuan yang koheren. Ketika perpecahan-perpecahan yang parah, terapi berusaha untuk membantu orang untuk mengintegrasikan mereka.

Phantasi Sadar
Klein menyebutkan aspek naluri psikologis, phantasi bawah sadar (sengaja dieja dengan 'ph' untuk membedakannya dari kata 'fantasi'). Phantasi adalah kehidupan psikis yang diberikan yang bergerak keluar menuju dunia. Potensi gambaran ini diberikan sebelumnya dengan gerakan dan akhirnya mengizinkan pengembangan negara-negara yang lebih kompleks dari kehidupan mental. Phantasi sadar dalam kemunculan kehidupan mental bayi dimodifikasi oleh lingkungan seperti bayi memiliki kontak dengan dunia nyata.

Dari saat bayi mulai berinteraksi dengan dunia luar, ia terlibat dalam pengujian phantasi di sebuah pengaturan kenyataan. Asal mula pemikiran terletak dalam proses pengujian fantasi terhadap realitas, yaitu, bahwa pikiran tidak hanya kontras dengan phantasi, namun berdasarkan dan berasal dari itu.

Peran phantasi sadar sangat penting dalam pengembangan kapasitas untuk berpikir. Dalam istilah Bion, kesan phantasi adalah prasangka yang tidak akan berpikir sampai pengalaman menggabungkan dengan realisasi di dunia pengalaman. Prasangka dan realisasi bergabung untuk mengambil bentuk sebagai konsep yang bisa berpikir. Contoh klasik dari hal ini adalah bayi yang diamati mencari untuk menyusu dalam jam pertama kehidupan. Naluri mencari adalah prasangka tersebut. Penyediaan buah dada memberikan realisasi dalam dunia pengalaman, dan melalui waktu, dengan pengalaman diulang, prasangka dan realisasi dikombinasikan untuk membuat konsep. Kapasitas mental dibangun atas pengalaman sebelumnya sebagai lingkungan dan interaksi bayi.

Pengalaman pertama tubuh mulai membangun kenangan pertama, dan realitas eksternal secara progresif terangkai ke dalam tekstur khayalan. Sebelum menghendaki, phantasi anak mampu memanfaatkan kesan yang mudah diubah serta sensasi-visual, auditori, kinesthetic, sentuhan, rasa, gambar bau, dll. Dan kesan-kesan yang mudah diubah serta representasi dramatis phantasi yang semakin diuraikan bersama dengan persepsi diungkapkan dengan jelas dari dunia luar.

Dengan perawatan yang memadai, bayi dapat mentolerir meningkatkan kesadaran pengalaman oleh phantasi sadar dan mengarah ke pencapaian prestasi pembangunan berturut-turut, "posisi" dalam teori Klein.

Identifikasi Proyektif
Sebagai istilah tertentu, identifikasi proyektif diperkenalkan oleh Klein dalam "Catatan pada beberapa mekanisme skizofrenia."

[Proyeksi] membantu ego untuk mengatasi kecemasan dengan cara membersihkan itu dari bahaya dan kejahatan. Introjeksi dari objek yang baik juga digunakan oleh ego sebagai pertahanan diri terhadap kecemasan. Proses pemisahan dari bagian dari diri dan proyeksi mereka menjadi objek demikian sangat penting untuk perkembangan normal maupun untuk relasi abnormal objek. Pengaruh introjeksi terhadap hubungan-hubungan objek sama pentingnya. Para introjeksi dari objek yang baik, pertama-tama payudara ibu, merupakan prasyarat untuk perkembangan normal. Ia datang untuk membentuk titik fokus di ego dan membuat untuk kekompakan ego. Proses ini disebut dengan istilah 'identifikasi proyektif'.

Klein membayangkan fungsi ini sebagai pertahanan yang memberikan kontribusi untuk perkembangan bayi normal, termasuk struktur ego dan pengembangan hubungan obyek. Para introjeksi dari payudara yang baik menyediakan lokasi di mana satu dapat bersembunyi dari penganiayaan, langkah awal dalam mengembangkan kapasitas untuk menenangkan diri sendiri.

Ogden mengidentifikasi empat fungsi yang identifikasi proyektif dapat melayani. Seperti pada model tradisional Klein, ia berfungsi sebagai pertahanan. Identifikasi proyektif berfungsi sebagai modus komunikasi. Ini adalah bentuk hubungan-hubungan objek, dan sebagai bentuk hubungan objek "jalur untuk perubahan psikologis.", Identifikasi proyektif adalah cara untuk berhubungan dengan orang lain yang tidak dilihat sebagai sepenuhnya terpisah dari individu. Sebaliknya, ini berkaitan terjadi "antara tahap objek subjektif dan keterkaitan obyek yang benar".

Posisi

Teori posisi Klein, underlain oleh fantasi tak sadar, adalah tahapan dalam perkembangan normal hubungan ego dan objek, masing-masing dengan karakteristik pertahanan sendiri dan struktur organisasi. Posisi paranoid-skizofrenia dan depresi terjadi dalam tahap pembangunan pra-oedipal oral.

Berbeda dengan Fairbairn dan kemudian Guntrip, Klein percaya bahwa kedua objek baik dan buruk yang terintrojeksi oleh bayi, internalisasi objek baik yang penting untuk perkembangan fungsi ego yang sehat. Klein di konsep posisi depresi sebagai "bentuk organisasi paling matang psikologis", yang terus berkembang sepanjang masa hidup.

Posisi depresi terjadi selama kuartal kedua tahun pertama. Sebelum bahwa bayi berada dalam posisi-skizofrenia paranoid, yang ditandai dengan kecemasan persecutory dan mekanisme pembagian, proyeksi, introjeksi, dan kemahakuasaan-yang mencakup idealisasi dan penyangkalan-melakukan pembelaan terhadap kecemasan; mode depresi, dan skizofrenia paranoid-pengalaman terus berbaur selama beberapa tahun pertama masa kanak-kanak.


Posisi Skizofrenia Paranoid
Posisi skizofrenia paranoid ditandai dengan hubungan obyek bagian. Bagian objek adalah fungsi dari pemecahan, yang berlangsung di khayalan. Pada tahap perkembangan, pengalaman hanya dapat dianggap sebagai semua baik atau semuanya buruk. Sebagai obyek bagian, itu adalah fungsi yang diidentifikasi oleh diri mengalami, bukan yang lain utuh dan otonom. Bayi lapar menginginkan payudara yang baik yang meberikannya makan. Keharusan payudara muncul merupakan payudara yang baik. Jika payudara tidak muncul, bayi lapar dan sekarang frustrasi dalam kesusahan, memiliki fantasi merusak didominasi oleh agresi oral terhadap payudara, berhalusinasi buruk.

Klein mencatat bahwa dalam membelah objek, ego juga split. Bayi yang berfantasi menghancurkan payudara buruk tidak bayi sama yang mengambil pada payudara yang baik, setidaknya tidak sampai memperoleh posisi depresi, di mana titik baik dan buruk dapat ditolerir secara bersamaan dalam orang yang sama dan kapasitas untuk penyesalan dan reparasi terjadi.

Kecemasan dari posisi skizofrenia paranoid sifatnya persecutory, takut memusnahkan ego. Memisahkan memungkinkan baik untuk tinggal terpisah dari yang buruk. Proyeksi adalah suatu usaha untuk mengeluarkan yang buruk untuk mengontrol melalui penguasaan mahakuasa. Memisahkan tidak pernah sepenuhnya efektif, menurut Klein, sebagai ego cenderung ke arah integrasi.

 Posisi Depresi

Klein melihat posisi depresi sebagai tonggak perkembangan penting yang terus jatuh tempo sepanjang masa hidup. Hubungan objek pemecahan dan bagian yang menjadi ciri fase sebelumnya yang digantikan oleh kemampuan untuk melihat bahwa yang lain yang frustasi adalah juga yang memuaskan. Pertahanan skizoid masih dalam bukti, tapi perasaan bersalah, kesedihan, dan keinginan untuk mendapatkan reparasi dominasi dalam pikiran berkembang.

Dalam posisi depresi, bayi dapat pengalaman orang lain secara keseluruhan, yang secara radikal mengubah hubungan objek dari tahap sebelumnya. "Sebelum posisi depresi, suatu benda yang baik bukan dengan cara apapun hal yang sama sebagai objek buruk. Hal ini hanya dalam posisi depresi bahwa kualitas polar dapat dilihat sebagai aspek yang berbeda dari objek yang sama "Meningkatkan kedekatan yang baik dan buruk membawa integrasi yang sesuai ego.

Dalam perkembangan yang Grotstein istilah yang "primal split", bayi menjadi sadar keterpisahan dari ibu. Kesadaran ini memungkinkan rasa bersalah timbul dalam menanggapi fantasi sebelumnya bayi agresif ketika buruk itu memisahkan diri dari yang baik. absen sementara sang ibu memungkinkan untuk restorasi terus dia "sebagai representasi citra" dalam pikiran bayi. Simbolik pikir sekarang mungkin timbul, dan hanya dapat muncul sekali akses ke posisi depresi telah diperoleh. Dengan kesadaran primal split, ruang yang dibuat di mana simbol, yang melambangkan, dan subjek mengalami hidup berdampingan. Sejarah, subjektivitas, interioritas, dan empati semua menjadi mungkin.

Kecemasan karakteristik pergeseran posisi depresi dari takut dihancurkan untuk takut orang lain menghancurkan. Bahkan atau fantasi, satu sekarang menyadari kapasitas untuk menyakiti atau mengusir seseorang yang satu ambivalently mencintai. Pertahanan karakteristik posisi depresi termasuk manic pertahanan, represi dan reparasi. Pertahanan manic adalah pertahanan yang sama dibuktikan di posisi paranoid-skizofrenia, tapi sekarang dikerahkan untuk melindungi pikiran dari kecemasan depresi. Sebagai posisi depresi membawa tentang integrasi peningkatan ego, pertahanan awal perubahan dalam karakter, menjadi kurang intens dan memungkinkan peningkatan kesadaran realitas psikis.

Dalam bekerja melalui kecemasan depresi, proyeksi ditarik, yang memungkinkan otonomi lain yang lebih, kenyataan, dan sebuah keberadaan yang terpisah. Bayi, yang merusak fantasi diarahkan terhadap ibu yang buruk yang frustrasi, sekarang mulai menyadari bahwa buruk dan baik, frustasi dan mengenyangkan, selalu ibu yang sama. bersalah sadar untuk fantasi destruktif muncul dalam menanggapi kasih dan perhatian terus diberikan oleh pengasuh.
[Seperti] takut kehilangan orang yang dicintai menjadi aktif, langkah yang sangat penting dilakukan dalam pengembangan. Ini perasaan bersalah dan tertekan sekarang masukkan sebagai elemen baru ke dalam emosi cinta. Mereka menjadi bagian yang melekat dari cinta, dan pengaruh itu sangat baik dalam kualitas dan kuantitas.

Dari tonggak perkembangan datang kapasitas untuk simpati, tanggung jawab dan kepedulian terhadap orang lain, dan kemampuan untuk mengidentifikasi dengan pengalaman subjektif orang satu peduli. Dengan penarikan proyeksi destruktif, represi impuls agresif terjadi. Anak itu memungkinkan Pengurus keberadaan lebih terpisah, yang memfasilitasi peningkatan diferensiasi realitas dalam dan luar. Kemahakuasaan berkurang, yang sesuai dengan penurunan rasa bersalah dan rasa takut kehilangan.

Ketika semua berjalan dengan baik, anak berkembang mampu memahami bahwa orang lain eksternal adalah orang-orang otonom dengan kebutuhan mereka sendiri dan subjektivitas.

Sebelumnya, diperpanjang absensi objek (payudara yang baik, ibu) dialami sebagai persecutory, dan, menurut teori fantasi sadar, bayi dianiaya phantisizes kehancuran objek buruk. Objek yang baik yang kemudian datang bukan objek yang tidak tiba. Demikian pula, bayi yang menghancurkan objek buruk bukan bayi yang mencintai objek yang baik.

Dalam lamunan, ibu internal yang baik dapat cenayang dihancurkan oleh impuls agresif. Sangat penting bahwa orang tua sebenarnya angka sekitar untuk menunjukkan kelangsungan cinta mereka. Dengan cara ini, anak merasa bahwa apa yang terjadi pada objek baik dalam fantasi tidak terjadi kepada mereka dalam kenyataan. Realitas psikis diperbolehkan untuk berkembang sebagai tempat yang terpisah dari literal dari dunia fisik.

Melalui pengalaman berulang-ulang dengan orang tua cukup baik, gambar internal bahwa anak memiliki orang lain eksternal, bahwa anak itu adalah obyek internal dimodifikasi oleh pengalaman dan gambar mengubah, penggabungan pengalaman baik dan buruk yang menjadi lebih mirip dengan objek nyata ( misalnya ibu, yang bisa baik dan buruk). Dalam istilah Freudian, prinsip kesenangan dimodifikasi oleh prinsip realitas.

Melanie Klein melihat ini permukaan dari posisi depresi sebagai prasyarat bagi kehidupan sosial. Selain itu, ia memandang pembentukan di dalam sebuah dan sebuah dunia luar sebagai awal dari hubungan interpersonal.

Klein mengatakan bahwa orang yang tidak pernah berhasil dalam bekerja melalui posisi depresi di masa kecil mereka akan, sebagai akibatnya, terus berjuang dengan masalah ini dalam kehidupan dewasa. Sebagai contoh: penyebab bahwa seseorang dapat mempertahankan menderita intens perasaan bersalah atas kematian orang yang dicintai, dapat ditemukan dalam posisi tidak dikerjakan-melalui depresi. rasa bersalah itu ada karena kurangnya pemisahan [disambiguasi diperlukan] antara dalam dan luar dan juga sebagai mekanisme pertahanan untuk mempertahankan diri melawan perasaan tak tertahankan sedih intens dan kesedihan dan selanjutnya obyek internal terhadap kemarahan tak tertahankan dari diri, yang dapat menghancurkan (internal) obyek selamanya.

Berpikir lebih lanjut mengenai posisi

Wilfred Bion mengartikulasikan sifat dinamis dari posisi, titik ditekankan oleh Thomas Ogden, dan dikembangkan oleh John Steiner dalam hal " Keseimbangan antara-paranoid skizofrenia dan posisi depresif" '. Ogden dan James Grotstein terus mengeksplorasi negara kekanak-kanakan awal pikiran, dan menggabungkan karya Donald Meltzer, Ester Bick dan lain-lain, dalil posisi sebelum-skizofrenia paranoid. Grotstein, berikut Bion, juga hipotesis posisi transenden yang muncul setelah pencapaian posisi depresi. Aspek pekerjaan baik Ogden dan Grotstein's masih kontroversial bagi banyak dalam teori klasik objek hubungan.

Kematian Gerakan

Sigmund Freud mengembangkan konsep hubungan obyek untuk menjelaskan atau menekankan bahwa tubuh drive memuaskan kebutuhan mereka melalui medium, obyek, pada suatu lokus tertentu. Tesis sentral dalam teori hubungan-hubungan objek Melanie Klein adalah bahwa benda memainkan peran penting dalam pengembangan subjek dan dapat berupa bagian-benda atau keseluruhan-objek, yaitu organ tunggal (payudara ibu) atau manusia seutuhnya (ibu ). Akibatnya seorang ibu atau hanya payudara ibu bisa menjadi lokus kepuasan mobil. Selanjutnya, menurut psikoanalisis tradisional, setidaknya ada dua jenis drive, libido (mitra mitos: Eros), dan dorongan kematian (mitra mitos: Thanatos). Dengan demikian, objek dapat menjadi penerima cinta dan benci, efek afektif libido dan gerakan kematian.

Pengembangan diri
Singkatnya, pembangunan terlihat sebagai sebuah proses di mana bayi yang baru lahir memulai dunia yang dialami dengan memisahkan perasaan baik (gratifikasi) dan buruk (ketegangan). Dalam dunia awal, orang lain, termasuk ibu belum dapat dibedakan. Pengalaman memisahan emosi dan orang-orang (objek) dalam kondisi baik-buruk, istilah positif-negatif kemudian berlanjut sepanjang hidup.
Objek yang paling penting, ibu, segera mulai mewakili oleh anak muda secara internal sebagai kesan. Dengan perkembangan kognitif dan pertumbuhan kemampuan bahasa, anak dapat mulai internalisasi tidak hanya gambar materi tetapi juga percakapan internal dalam bentuk dialog batin. Beberapa percakapan dini dapat didengar. Anda tahu ini jika Anda pernah mendengar percakapan anak-anak terkadang dilakukan dengan diri mereka sendiri karena mereka memuji atau memarahi kinerja mereka sendiri, mengatakan "anak baik" atau "tidak, tidak” terdengar untuk mereka sendiri. Dialog internal ini terutama terlihat selama pelatihan toilet dan latihan awal lainnya dalam pengembangan regulasi diri.
Dalam waktu, internalisasi kesan keibuan dan percakapan menjadi pondasi dalam pengembangan diri. Anda dapat melihat perkembangan ini, misalnya dalam meningkatnya penggunaan "aku" dalam pembicaraan anak. Ucapan si anak berubah dari "Jane ingin es krim" untuk kata ganti pribadi menjadi  "Aku” ingin ini, "Aku" memakannya, "Aku" buruk.
Dalam penggambaran ini, pemisahan emosi berlanjut sebagai suatu aspek dari mengembangkan diri: “Hanya sebagai pemecahan awal ibu menciptakan perpecahan di hadapan ibu, sehingga perpecahan di hadapan ibu dalam menciptakan perpecahan dalam diri. Awal perpecahan melahirkan split. Dalam waktu, individu datang untuk melihat diri mereka sebagai baik atau buruk tergantung pada pemisahan pengalaman emosional baik - buruk mereka sebelumnya. Rasa harga diri yang pada akhirnya muncul mencirikan bagaimana orang merasa tentang diri mereka. Konsekuensi keduanya dari pengalaman sebelumnya dan banyak faktor yang dialami kemudian dalam perjalanan hidup.
Seperti kelanjutan proses pemisahan, berbagai identitas perpecahan terjadi. Mereka menghasilkan kategori penting seperti salah satu identitas seksual, identitas karir, identitas sebagai orang tua dan seterusnya. Setiap emosional yang berwarna dalam kondisi yang baik-buruk. Pemekaran emosional diwakili oleh perhatian dengan kebaikan-keburukan yang tidak pernah berakhir. Ketika itu berjudul menuju ketidakseimbangan kejahatan, hal ini terus menimbulkan korosi hubungan orang dan itu adaptif. Proses terapi, pada gilirannya dipandang sebagai metode untuk melepas ketidakseimbangan, pengakuan dan mengatasi konflik batin dan mengembangkan citra yang lebih terintegrasi dan positif dari diri.

Konsep diri adalah bagaimana kita memandang diri kita sendiri. hal ini kita lakukan dengan penggolongan karakteristik sifat pribadi, karakteristik sifat sosial dan peran sosial.
Karakteristik pribadi adalah sifat-sifat yang kita miliki, paling tidak dalam persepsi kita mengenai diri kita sendiri. Karakteristik ini dapat bersifat fisik (laki-laiki, perempuan, tinggi, rendah, cantik, tampan, gemuk, dsb) atau dapat juga mengacu pada kemampuan tertentu (pandai, pendiam, cakap, dungu, terpelajar, dsb.) konsep diri sangat erat kaitannya dengan pengetahuan. Apabila pengetahuan seseorang itu baik/tinggi maka, konsep diri seseorang itu baik pula. Sebaliknya apabila pengetahuan seseorang itu rendah maka konsep diri seseorang itu tidak baik pula.
Karakteristik sosial adalah sifat-sifat yang kita tamplikan dalam hubungan kita dengan orang lain (ramah atau ketus, ekstrovert atau introvert, banyak bicara atau pendiam, penuh perhatian atau tidak pedulian, dsb). Hal - hal ini mempengaruhi peran sosial kita, yaitu segala sesuatu yang mencakup hubungan dengan orang lain dan dalam masyarakat tertentu.

PERAN SOSIAL
Ketika peran sosial merupakan bagian dari konsep diri, maka kita mendefinisikan hubungan sosial kita dengan orang lain, seperti: ayah, istri, atau guru. Peran sosial ini juga dapat terkait dengan budaya, etnik, atau agama. Meskipun pembahasan kita mengenai 'diri' sejauh ini mengacu pada diri sebagai identitas tunggal, namun sebenarnya masing-masing dari kita memiliki berbagai identitas diri yang berbeda (mutiple selves).

IDENTITAS DIRI
Identitas berbeda atatu multiple selves adalah seseorang kala ia melakukan berbagai aktifitas, kepentingan, dan hubungan sosial. Ketika kita terlibat dalam komunikasi antar pribadi, kita memiliki dua diri dalam konsep diri kita:
·         Pertama persepsi mengenai diri kita, dan persepsi kita tentang persepsi orang lain terhadap kita (meta persepsi).
·          Identitas berbeda juga bisa dilihat kala kita memandang 'diri ideal' kita, yaitu saat bagian kala konsep diri memperlihatkan siapa diri kita 'sebenarnya' dan bagian lain memperlihatkan kita ingin 'menjadi apa'(idealisasi diri)
Contohnya saat orang gemuk berusaha untuk menjadi langsing untuk mencapai gambaran tentang dirinya yang ia idealkan.
Proses Pengembangan Kesadaran Diri
Proses pengembangan kesadaran diri ini diperoleh melalui tiga cara,,yakni
1.    Cermin diri (reflective self) terjadi saat kita menjadi subyek dan obyek diwaktu yang bersamaan, sebagai contoh orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi biasanya lebih mandiri.

2.    Pribadi sosial (social self) adalah saat kita menggunakan orang lain sebagai kriteria untuk menilai konsep diri kita, hal ini terjadi saat kita berinteraksi. Dalam interaksi, reakasi orang lain merupakan informasi mengenai diri kita, dan kemudian kita menggunakan informasi tersebut untuk menyimpulkan, mengartikan, dan mengevaluasi konsep diri kita. Menurut pakar psikologi Jane Piaglet, konstruksi pribadi sosial terjadi saat seseorang beraktifitas pada lingkungannya dan menyadari apa yang bisa dan apa yang tidak bisa ia lakukan

Contoh: Seseorang yang optimis tidak melihat kekalahan sebagai salahnya, bila ia mengalami kekalahan, ia akan berpikir bahwa ia mengalami nasib sial saja saat itu, atau kekalahan itu adalah kesalahan orang lain. Sementara seseorang yang pesimis akan melihat sebuah kekalahan itu sebagai salahnya, menyalahkan diri sendiri dalam waktu yang lama dan akan mempengaruhi apapun yang mereka lakukan selanjutnya.Karena itulah seorang yang pesimis akan lebih mudah untuk menyerah.

3.     Perwujudan diri (becoming self). Dalam perwujudan diri (becoming self) perubahan konsep diri tidak terjadi secara mendadak atau drastis, melainkan terjadi tahap demi tahap melalui aktifitas serhari hari kita. Walaupun hidup kita senantiasa mengalami perubahan, tetapi begitu konsep diri kita terbentuk, teori akan siap kita akan menjadi lebih stabil dan sulit untuk di rubah secara drastis.

Contoh, bila kita mencoba merubah pendapat orang tua kita dengan memberi tahu bahwa penilaian mereka itu harus dirubah - biasanya ini merupakan usaha yang sulit. Pendapat pribadi kita akan 'siapa saya' tumbuh menjadi lebih kuat dan lebih sulit untuk diubah sejalan dengan waktu dengan anggapan bertambahnya umur maka bertambah bijak pula kita.


sumber :

http : // www. en.wikipedia.org/wiki/Object_relations_theoryi
.feureau.com/Maranatha/Semester%202/.../MELANIE%20KLEIN.ppt
INTRODUCTION TO PERSONALITY- MISCHEL / SODA / SMITH sevent edition