Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 06 Januari 2015

Perilaku menabung (mengapa orang menabung)

Dalam tinjauan psikologi perilaku konsumen, menurut Fisher terdapat dua macam pola perilaku konsumen terhadap uang. Yang pertama perilaku konsumen yang cenderung membelanjakan atau menghabiskan uang. Sering kali uang yang dipakai itu bukan untuk keperluan yang bergitu penting, ketika mereka melihat barang yang menarik atau diinginkan tanpa perlu pikir panjang. Mereka merasakan dorongan untuk menghabiskan uang dan memakainya secara tak terkontrol tanpa perlu berpikir untuk menyimpan beberapa bagian dari uang tersebut. Mereka cenderung membelanjakan jumlah uang yang mereka miliki untuk kebutuhan mereka pada saat ini.



Disisi lain ada beberapa orang yang menggangap uang sebagai sesuatu yang menjanjikan kedepan artinya untuk memprioritaskan kebutuhan ke depan nantiya mereka cenderung untuk menunda kesenangan untuk menghabiskan uang.sebaliknya dengan mengumpulkan uang, atau menyimpannya untuk tujuan-tujuan tertentu seperti menikah, biaya kuliah, atau biaya-biaya tidak terduga lainnya. Atau untuk mengumpulkan uang untuk sesuatu yang ingin dibeli dikemudian hari nantinya. Bentuk menyimpan uang ini bisa dengan berbagai cara bisa dengan menabung, berinvestasi atau lainnya (Fisher, 2000).

Salah satu jalan menyimpan uang yang paling sering dilakukan adalah dengan menabung, menabung bukanlah kata yang asing lagi ditelinga kita, hampir semua orang tahu tentang menabung. Menabung bisa melalui bank, menabung sendiri atau bahkan investasi emas. Namun yang menjadi masalah adalah kebiasaan menabung itu sendiri. menabung sering terngiang di telinga kita, tetapi tetap saja tidak semua orang menjadikan menabung sebagai kebiasaannya, walau memang ada sebagian orang yang gemar menabung, namun menabung terbukti sangat sulit diterapkan (Wardhani, 2008).

Faktanya banyak pengamat dari bidang ekonomi saat ini prihatin tentang rendahnya tingkat tabungan pribadi di Indonesia. Rendahnya angka tabungan ini membawa implikasi pada banyak hal, baik bagi pribadi itu sendiri maupun untuk negara secara keseluruhan seperti yang di lansir dibawah ini di beberapa berita.

"Jumlah kepemilikan rekening tabungan masih di bawah 50 persen dari total penduduk Indonesia saat ini," kata anggota Komisi XI DPR, Kemal Azis Stamboel. Berdasarkan penelitiannya, hanya sekitar 19,6 persen masyarakat Indonesia berusia di atas 15 tahun yang mempunyai rekening tabungan. Padahal, jumlahnya di Malaysia sudah 66,2 persen, Thailand 72,7 persen, dan Singapura 98,2 persen (okezone.com).

Masalah yang terjadi pada zaman yang serba konsumtif, orang-orang lupa untuk hidup hemat, apalagi menabung. Alih-alih mengajak menabung, kita terkadang lupa diri bila sudah berada di tempat-tempat perbelanjaan (Wardhani, 2008). Tawaran diskon atau voucher membuat mereka segera merogoh dompet tanpa berpikir apakah barang yang dibeli benar-benar dibutuhkan. Gaya hidup konsumtif semacam ini semakin dimudahkan dengan berbagai kemudahan yang di tawarkan oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan ekonomis, di tengah iming-iming yang serba menarik hati, kita harus bekerja ekstra keras untuk menarik diri dari perilaku konsumtif tersebut.

Seperti yang kita ketahui bersama ditengah-tengah keadaan yang serba ekonomis seperti sekarang ini, dimana semua berbagai macam hal muncul melalui media iklan membuat seolah-olah barang yang mereka tawarkan adalah barang yang penting. Kita sebagai konsumen seringkali lupa dan tidak menyadari mana yang penting dan tidak penting untuk kita beli. Uang yang harusnya bisa kita simpan untuk kedepannya, malah habis dengan tidak menentu untuk hal-hal yang belum tentu kita perlukan. Maka diperlukan kemampuan untuk mengelolo uang.

Kemampuan seseorang untuk mengelola uangnya adalah hal yang penting untuk menjadi sukses dalam hidup. Manajemen keuangan memiliki telah diidentifikasi sebagai penentu utama kesejahteraan keuangan seseorang (Garman & Forgue, 2006; Joo, 2008; Xiao, Tang & Shim, 2009). Manajemen keuangan yang efektif oleh seseorang sangat penting dalam mengembangkan kehidupannya karena merupakan komponen yang sangat diperlukan perbaikan kondisi ekonomi (Copur et al., 2010:1626).

Menurut Keynes (1936) ada 8 motif yang berbeda dalam menabung yaitu : (1) Precaution (tindakan pencegahan), berimplikasi pada menambah cadangan untuk menghadapi keadaan yang tidak terduga; (2) Foresight (tinjauan masa depan), untuk mengantisipasi perbedaan antara pendapatan dengan pengeluaran belanja di masa depan (the life-cycle motive); (3) Calculation (perhitungan), ingin memperoleh keununtungan (bunga uang); (4) Improvement (perbaikan), meningkatkan standar hidup untuk waktu yang lama; (5) Independence (kebebasan), menunjukkan adanya kebutuhan akan kebebasan dan memiliki kekuasaan untuk melakukan sesuatu; (6) Enterprise (usaha), adanya kebebasan untuk menanamkan uang ketika ia memungkinkan (mendukung); (7) Pride (kebanggaan), lebih tertuju pada menempatkan uang untuk ahli waris (the bequest motive); dan (8) Avarice (keserakahan harta) atau kekikiran yang sesungguhnya.

Sedangkan Browning dan Lusardi (1996) menambahkan adanya down-payment motive, yaitu keinginan (hasrat) untuk mengakumulasikan keseluruhan uang untuk digunakan sebagai alat pembayaran terhadap barang yang mahal dan tahan lama seperti rumah atau mobil. untuk itu perlu dilakukan penelitian mengenai mengapa orang mau menabung dan motif apa yang mendasarinya.

Minggu, 14 Desember 2014

Teori komunikasi Interpersonal

Defenisi Komunikasi Interpersonal

Menurut Devito (1997), komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terjalin antara satu orang dengan orang lain yang mereka tersebut mempunyai sebuah hubungan, menurutnya komunikasi interpersonal meliputi apa yang terjadi antara anak dengan orang tua, dua orang yang bersaudara, antara seorang guru dan murid, dua orang yang saling mencinta, atau antara dua orang teman dan sebagainya. Sedangkan Bienvenu (1987) berpendapat bahwa komunikasi interpersonal dikatakan baik dikarenakan adanya konsep diri yang dapat mempengaruhi komunikasi tersebut, kemudian adanya kemampuan untuk mendengarkan isi dari komunikasi tersebut, juga marnpu mengekspresikan pikiran dan dapat mengatasi emosi terutama kemarahan, yang paling penting adanya keinginan untuk berkomunikasi dengan baik. Komunikasi yang terjadi antara dua orang (dyadic) merupakan komunikasi interpersonal.



Tujuan Komunikasi Interpersonal
Menurut Devito dalam bukunya "Human Communication" (2006), dijelaskan tujuan komunikasi interpersonal diantaranya:
  • a. Mempelajari, untuk mendapatkan pengetahuan diri dan orang lain serta untuk memperoleh keahlian.
  • b. Berhubungan, untuk membina dan memelihara hubungan dengan orang lain
  • c. Mempengaruhi, untuk mengendalikan dan mengarahkan. Dalam berkomunikasi kita beursaha untuk mengubah sikap dan perilaku orang lain sena herusaha mengajak orang lain melakukan sesuatu.
  • d. Memainkan, untuk memperoleh kesenangan dan kepuasan hati. Kita rnenggunakan banyak perilaku komunikasi untuk bermain dan menghibur diri.
  • e. Membantu untuk menolong, melayani kebutuhan orang lain dan untuk menghibur diri sendiri dan orang lain. 

Aspek-aspek Komunikasi Interpersonal
Devito (1997) menjelaskan lima aspek yang mempengaruhi komunikasi interpersonal, yaitu:

1. Openess (keterbukaan)
Sikap keterbukaan paling tidak (menunjuk pada dua aspek dalam komunikasi antar pribadi. Pertama, terbuka pada orang lain yang berinteraksi dengannya, yang penting adalah adanya kemauan untuk membuka diri pada masalah-masalah yang umum agar orang lain mampu mengetahui pendapat, gagasan, atau pikiran kita, sehingga komunikasi akan mudah dilakukan. Kedua, dari keterbukaan menunjuk pada kemauan untuk memberikan tanggapan terhadap orang lain secara jujur dan terus terang terhadap segala sesuatu yang dikatakannya.

2. Emphaty (empati)
Empati adalah kemampuan seseorang untuk menempatkan dirinya pada posisi atau peranan orang lain. Dalam arti bahwa seseorang secara emosional ataupun intelektual mampu memahami apa yang dirasakan dan dialami oleh orang lain.

3. Supporiiveness (dukungan)
Setiap pendapat, ide, atau gagasan yang disampaikan mendapat dukungan dari pihak-pihak yang berkomunikasi. dengan demikian keinginan atau hasrat Yang ada dimotivasi untuk mencapainya. Dukungan membantu seseorang untuk lebih bersemangat dalam melaksanakan aktivitas serta meraih tujuan yang didambakan.

4. Positiveness (rasa positif)
Jika setiap pembicaraan yang disampaikan mendapat tanggapan pertama yang positif, maka lebih mudah melanjutkan percakapan yang selanjutnya. Rasa positif menghindarkan pihak-pihak yang berkomunikasi untuk curiga atau berprasangka yang mengganggu jalinan interaksi.

5. Equality (kesamaan)
Suatu komunikasi lebih akrab dan jalinan antarpribadi pun lebih kuat, apabila memiliki kesamaan tertentu seperti kesamaan pandangan, kesamaan sikap, kesamaan usia, kesamaan idiologi dan sebagainya.
Millard J. Bienvenu (1987) membagi komunikasi interpersonal menjadi 5 (lima) aspek yang disebut dengan "Interpersonal Communication Inventory" dan digunakan sebagai alat ukur untuk komunikasi interpersonal, yaitu:

1. Self-Concept
Konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya.

2. Ability
Kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik, keterampilan yang mendapat sedikit perhatian. Dan kemampuan mengekspresika

3. Skill Experience
Banyak orang merasa sulit untuk melakukan kemampuan untuk mengekspresikan pikiran dan ide-idenya.

4. Emotion
Yang dimaksud di sini adalah individu dapat mengatasi emosinya dengan cara konstrulctif (memperbaiki kemarahan).

5. Self-Disclosure
Keinginan untuk berkomunikasi kepada orang lain secara bebas dan terus terang, dengan tujuan untuk menjaga hubungan interpersonal.

Rabu, 12 November 2014

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Hemat Energi

Pada post kali ini, akan dibahas mengenai faktor yang mempengaruhi perilaku hemat energi. Berbagai literatur menjelaskan faktor yang mempengaruhi perilaku hemat energi muncul dari berbagai macam bidang, seperti ekonomi, sosial dan psikologi tentunya. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku hemat energi :



A. Pendidikan
Pendidikan diyakini memainkan peran penting. Orang berpendidikan tinggi memiliki kepedulian tinggi bagi masa depan dan lingkungan. semakin seseorang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, maka semakin peduli ia terhadap kelangsungan lingkungan. dan salah satunya dengan menghemat energi (Barr et al. 2005).

B. Pendapatan
Menurut Kuznets (2008) bahwa penggunaan energi rumah tangga di negara-negara berpenghasilan tinggi jauh lebih tinggi daripada di negara-negara berpenghasilan rendah. Tentu saja, ini adalah hubungan tingkat makro. Ketika melihat tingkat mikro rumah tangga, Menurut Gusbin et al. (2004): "Mengenai dampak pendapatan terhadap permintaan energi dan pendapatan rumah tangga. dengan pendapatan yang tinggi akan memungkinkan seseorang untuk membeli peralatan yang efisien dan hemat energi yang cenderung lebih mahal daripada peralatan konvensional. Di sisi lain, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendapatan rumah tangga yang lebih tinggi berkorelasi dengan kepedulian lingkungan yang lebih rendah (Anker-Nilsson. 2003).

C. Usia
Ada pengaruh yang positif walaupun tidak signifikan usia terhadap perilaku hemat energi, menurut beberapa studi menunjukkan bahwa konsumen yang lebih muda dan berpendidikan tampaknya lebih tepat dan lebih peduli terhadap lingkungan. Namun dalam literatur lainnya usia 65 tahun keatas terbukti lebih peduli dan melakukan perilaku penghematan energi (Lee & Emmel, 2003).

D. Pernikahan
Ada perbedaan perilaku hemat energi dan kesediaan untuk menghemat energi pada orang yang single dari pada mereka yang berkeluarga atau memiliki tanggungan, ini tampaknya disebabkan karena banyak beban energi yang dipakai pada kelompok yang telah berkeluarga (Handgraaf et.al., 2013).

E. Tempat tinggal
Negara-negara Asia yang ditandai dengan perbedaan tajam antara gaya hidup di daerah perkotaan dan pedesaan (Cai dan Jiang, 2008; Hubacek et.al., 2007; Reddy dan Balachandra, 2006). Pada Negara berkembang, ada kesenjangan yang signifikan antara gaya hidup pedesaan dan perkotaan. Di daerah pedesaan, gaya hidup tradisional biasanya tetap stabil, sedangkan daerah perkotaan mengalami periode konsentrasi penduduk yang cepat. Perbedaan antara pedesaan dan perkotaan merupakan faktor penting untuk dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan hemat energi yang tepat.

F. Difusi baru (eco-) teknologi
Hal ini jelas bahwa teknologi baru setidaknya akan memainkan beberapa peran dalam mencapai target penghematan energi ambisius pada tahun 2050. Teknologi tersebut sangat penting untuk diproduksi, tetapi juga pada sisi konsumsi, rumah tangga harus mengadopsi sejumlah inovasi teknologi baru. Namun, dibutuhkan proses yang panjang untuk inovasi teknologi untuk berpindah dari langkah dari penemuan ini untuk langkah digunakan secara luas pada berbagai tingkat lapisan masyarakat (Bachus & Ootegem, 2011).

G. Kondisi Lingkungan
Para konsumen energi yang percaya bahwa kondisi lingkungan saat ini memburuk dan merupakan masalah serius yang dihadapi keamanan dunia akan melakukan tindakan untuk melakukan penghematan energi. sedangkan konsumen yang kurang masuk akal untuk isu-isu ekologi merasa bahwa masalah lingkungan akan selesai dengan sendirinya (Laroche et.al., 2002).

H. Interaksi sosial dan Dukungan sosial
Pengaruh interaksi sosial terhadap perilaku hemat energi juga ditekankan dalam beberapa studi (misalnya, Ek dan Soderholm, 2010) bahwa interaksi sosial antar konsumen memungkinkan untuk saling menyebarnya informasi mengenai isu-isu lingkungan. Penelitian di Cina tentang kebijakan dan propaganda sosial oleh pemerintah memiliki peran penting (Wang et al, 2011). Selain itu, ada juga kebutuhan untuk informasi yang konsisten melalui interaksi sosial serta dukungan sosial dari lingkungan dari individu-individu agar dapat secara efektif memicu perilaku hemat energi (Bartiaux, 2008) dan ditambah lagi bahwa masyarakat kolektif (seperti masyarakat Indonesia) memiliki interaksi sosial yang lebih besar dibandingkan dengan masyarakat individualistis (Faiers et.al., 2007; Lynn dan Gelb, 1996). Perilaku dan opini dari mereka yang termasuk jaringan sosial masyarakat keluarga, kelompok referensi, seperti tetangga, teman dan lainnya) merupakan faktor penentu penting lainnya mengenai motivasi untuk perilaku hemat energi dan juga terkait dengan dilema social karena dengan adanya dukungan dilema sosial yang dialami seseorang ketika mengubah perilakunya bisa menghilang. Ini kadang-kadang disebut efek “lock-in” (Bachus and Ootegem, 2011).

I. Alat dan Transportasi yang Digunakan
Rumah tangga menggunakan energi untuk berbagai kegiatan. Dua domain yang berbeda dari kegiatan rumah tangga dapat dibedakan : indoor maupun outdoor. Menurut Van Diepen (2000), perbedaan ini mencerminkan perbedaan antara indoor dan outdoor, umumnya , kegiatan di kedua domain membutuhkan energi. Kegiatan indoor berada di rumah dan mencakup kegiatan seperti pemanas rumah, pencahayaan dan penggunaan peralatan rumah tangga. Penggunaan energi di indoor Belanda telah meningkat secara signifikan selama dekade terakhir (Noorman & Schoot Uiterkamp, 1998; Steg, 1999). Kegiatan di luar ruangan perhatian terutama transportasi dengan cara apapun, misalnya, untuk komuter, belanja, kegiatan rekreasi, dan hari libur.
Transportasi telah menjadi semakin penting. Tieleman (1998) bahkan menggambarkan transportasi bermotor sebagai bagian tak terhindarkan dari kehidupan modern. Total penggunaan energi untuk lalu lintas dan transportasi di Belanda telah meningkat secara substansial sekitar 30% dekade terakhir (CBS, 2001).

J. Harga dan Pajak
Penelitian ekonometrik yang relatif baru menyimpulkan bahwa harga-elastisitas permintaan energi adalah -0,45, menyiratkan bahwa kenaikan harga dengan 10% mengurangi permintaan dengan 4,5% (Killian, 2007). Konsultan Belanda Ecofys memperkirakan elastisitas harga untuk listrik dan permintaan gas menjadi sekitar -0,2, SEO (1998) menggunakan elastisitas harga untuk permintaan listrik dari -0,5. Untuk Belgia, model MARKAL/TIMES digunakan, tetapi menurut Proost dan Duerinck (2010)
Meskipun pajak adalah salah satu instrumen kebijakan yang paling populer, penggunaannya sebagai alat untuk secara aktif mengarahkan perilaku ke arah yang lebih berkelanjutan masih sangat terbatas. Banyak ilmuwan, terutama ekonomi, hal sebagai jenis yang paling efektif dari instrumen kebijakan untuk mewujudkan perubahan perilaku. Namun, banyak hambatan tetap untuk pelaksanaannya, yang paling penting adalah umum jenis perpajakan dengan bisnis dan masyarakat umum. Hambatan lainnya adalah dugaan adanya efek samping negatif, baik ekonomi (misalnya hilangnya daya saing) dan (misalnya dampak negatif distribusi) sosial.

K. Sikap terhadap hemat energi
Tidak mungkin untuk memisahkan antara "sikap-perilaku" (dengan fokus pada perilaku lingkungan). Orang mungkin menentang penghematan energi karena mereka percaya ini akan merusak kualitas hidup mereka. Karena mereka bersikap negatif terhadapnya penghematan tersebut. Sebaliknya jika mereka bersikap positif dan percaya ada keuntungan dari hemat energi maka mereka cenderung melakukan perilaku tersebut (Dean et al, 2006).

L. Identitas Personal & Self Control
Identitas personal juga mempengaruhi tindakan menghemat energi pada beberapa kalangan (bagaimana orang melihat diri mereka sendiri dan bagaimana mereka merasa masyarakat memandang mereka) dan norma-norma, yang bagaimana orang-orang umumnya bertindak dalam masyarakat ikut (Bachus & Ootegem, 2011). Kontrol diri berkaitan dengan kemauan seseorang yang terjebak dalam kebiasaan dan rutinitas lama, untuk beralih ke kebiasaan yang baru. kebiasaan yang sering diulang perilaku yang otomatis dan sering tertanam. (Bachus & Ootegem 2011).

M. Pengetahuan dan Informasi Mengenai Isu lingkungan
Penelitian yang lebih tradisional terhadap penggunaan energi dan harga dan pendapatan atau penentu lainnya mengasumsikan bahwa orang-orang (rumah tangga) menyadari jumlah dan jenis energi yang mereka gunakan. Namun pada kenyataannya, mungkin juga menjadi kasus yang sebagian besar rumah tangga tidak benar-benar tahu apa jenis layanan energi yang mereka beli saat menggunakan jenis tertentu peralatan, atau ketika pemanasan rumah mereka, atau ketika melakukan investasi, dll. Jadi, sebuah cabang menarik dari literatur berfokus pada hubungan antara penggunaan energi dan pengetahuan dan informasi tentang penggunaan energi tersebut.
Abrahamse, W.; Steg, L.; Vlek, C dan Rothengatter, T. (2007). Salah satu kesimpulan dari publikasi ini, relevan untuk metering bagian pintar dari proyek INESPO adalah bahwa " Secara keseluruhan, penyediaan informasi tampaknya mengarah ke perubahan dalam pengetahuan tentang masalah di tangan”. Terutama sehubungan dengan penggunaan energi tidak langsung orang mungkin meragukan upaya mereka dapat secara efektif mengurangi penggunaan energi. Orang tidak dapat memeriksa jumlah aktual energi yang dihemat. Kurangnya kredibilitas harus dicegah dengan meningkatkan transparansi dan mencegah pesan yang tidak konsisten. (Bachus and Ootegem, 2011).
Banyak penelitian lain menekankan peran informasi dalam mempromosikan penghematan energi Pengetahuan lingkungan, termasuk pengetahuan yang berkaitan dengan perubahan iklim, (Wang et.al., 2011).

Minggu, 14 September 2014

Health Belief Model (HBM)

Health Belief Model (HBM) adalah teori yang paling umum digunakan dalam pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan (Glanz, Rimer, & Lewis, 2002; National Cancer Institute [NCI], 2003) (dalam Turner, Hunt, Dibrezzo, & Jones, 2004). HBM berisi beberapa konsep utama yang memprediksi mengapa orang-orang akan mengambil tindakan untuk mencegah, untuk menyaring, atau untuk mengontrol kondisi penyakit. HBM termasuk kepada kerentanan, keseriusan, manfaat dan hambatan untuk perilaku, isyarat untuk bertindak, dan yang paling baru self-efficacy. Ini dikembangkan pada 1950-an sebagai cara untuk menjelaskan mengapa program skrining medis yang ditawarkan oleh US Public Health Service, terutama untuk TBC, tidak begitu sukses (Hoch-Baum dalam Turner et.al., 2004). Konsep asli yang mendasari HBM adalah bahwa perilaku kesehatan ditentukan oleh keyakinan pribadi atau persepsi tentang penyakit dan strategi yang tersedia untuk mengurangi terjadinya penyakit (Hochbaum dalam Turner et.al., 2004).



Jika individu menganggap diri mereka sebagai rentan terhadap kondisi, percaya bahwa kondisi akan memiliki konsekuensi yang serius, percaya bahwa suatu tindakan tersedia bagi mereka akan bermanfaat dalam mengurangi kerentanan mereka terhadap baik atau buruknya kondisi, dan percaya manfaat yang diharapkan mengambil tindakan lebih besar daripada hambatan (atau biaya) tindakan, mereka akan mengambil tindakan yang mereka percaya akan mengurangi risiko mereka (Champion & Skinner dalam Glanz, 2008).

Aspek-aspek health belief model (HBM)

Champion dan Skinner (dalam Glanz, 2008) mengemukakan adanya enam aspek dari health belief model (HBM), yaitu:

1. Perceived susceptibility, yaitu mengukur persepsi kerentanan mengacu pada keyakinan tentang kemungkinan mendapatkan penyakit atau kondisi. Misalnya, seorang wanita harus percaya ada kemungkinan terkena kanker payudara sebelum ia akan tertarik untuk memperoleh mammogram.

2. Perceived severity, yaitu mengukur perasaan tentang keseriusan tertular penyakit atau membiarkannya tidak diobati meliputi evaluasi dari kedua konsekuensi medis dan klinis (misalnya, kematian, cacat, dan nyeri) dan konsekuensi sosial yang mungkin (seperti dampak kondisi pada pekerjaan, kehidupan keluarga, dan hubungan sosial). Kombinasi kerentanan dan keparahan telah diberi label sebagai ancaman.

3. Perceived benefits, yaitu mengukur keyakinan orang mengenai manfaat yang dirasakan dari berbagai tindakan yang tersedia untuk mengurangi ancaman penyakit. Persepsi non-kesehatan lainnya, seperti penghematan keuangan yang berkaitan dengan berhenti merokok atau menyenangkan keluarga anggota dengan memiliki mammogram, juga dapat mempengaruhi keputusan perilaku. Dengan demikian, individu menunjukkan keyakinan optimal dalam kerentanan dan keparahan yang tidak diharapkan untuk menerima tindakan kesehatan yang dianjurkan dan mereka juga menganggap tindakan yang dilakukan sebagai sesuatu yang berpotensi menguntungkan dan mengurangi ancaman.

4. Perceived barriers, yaitu mengukur penilaian individu mengenai besar hambatan yang ditemui untuk mengadopsi perilaku kesehatan yang disarankan, seperti hambatan finansial, fisik, dan psikososial (Rosenstock, 1966).

5. Cues to action, yaitu mengukur peristiwa-peristiwa, orang-orang, atau hal-hal yang menggerakkan orang untuk mengubah perilaku mereka. Informan kunci memiliki banyak saran mengenai saluran intervensi dan strategi untuk mencapai orang-orang Afrika-Amerika (Allen, Kennedy, Wilson-Glover & Gilligan, 2007). Di antara saluran intervensi sering disebutkan adalah gereja, tukang cukur, organisasi persaudaraan, acara olahraga, kelompok sipil, dan sosial, dan penjara sebagai media edukasi dan penggerak bagi pria Afrika-Amerika untuk menghadiri program-program pendidikan kanker prostat (Allen et.al., 2007). Mendengar cerita TV atau berita radio tentang penyakit bawaan makanan dan membaca petunjuk penanganan yang aman untuk paket daging mentah dan unggas merupakan isyarat untuk melakukan suatu tindakan atau perilaku yang terkait dengan perilaku penanganan makanan yang lebih aman (Hanson & Benediktus dalam Turner et.al., 2008).

6. Self-efficacy, yaitu mengukur keyakinan bahwa seseorang dapat berhasil melaksanakan perilaku yang diperlukan untuk menghasilkan hasil (Bandura, dalam Glanz, 2008). Bandura membedakan harapan self-efficacy dari harapan hasil, dimana harapan dari self-efficacy didefinisikan sebagai seseorang yang memperkirakan bahwa perilaku tertentu akan menyebabkan hasil tertentu. Harapan hasil yang mirip tapi berbeda dari konsep HBM dirasakan manfaatnya. Pada tahun 1988, Rosenstock, Strecher, dan Becker (dalam Glanz, 2008) menyarankan bahwa self efficacy ditambahkan ke HBM sebagai konstruk yang terpisah, dan sementara kerentanan, keparahan, dan manfaat termasuk dalam konsep asli HBM.

Minggu, 03 Agustus 2014

pengertian Sensation Seeking

Sensation seeking telah didefinisikan oleh Zuckerman (1979) sebagai sebuah trait yang menggambarkan "kebutuhan untuk mendapatkan sensasi yang bervarasi, baru, kompleks, intens dan pengalaman serta kemauan untuk mengambil risiko baik fisik maupun sosial demi pengalaman tersebut (Lin & Tsai, 2002). Sensation seeking berkaitan dengan berbagai kegiatan seperti penggunaan narkoba, agresi, seks, skydiving, olahraga body-contact, hiking dan berkemah, atau bermain game komputer dan video games (Lin & Tsai, 2002).



Kegiatan dari sensation seeking sendiri merupakan bentuk pengalaman yang menyenangkan bagi orang tertentu dengan berusaha memaksimalkan arousal dan memacu adrenalin mereka menjadi aktif sehingga dengan ketegangan yang mereka rasakan mendatangkan rasa puas dan bahagia saat mereka dapat melewati masa kritis tersebut (Zuckerman, 1979).

Dimensi sensation seeking

Sensation seeking menurut Zuckerman (1979) mengukur perbedaan individu dalam mencari sensasi terdiri dari empat dimensi:

1. Thrill and adventure seeking (mencari sensasi yang menggetarkan hati dan petualangan), meliputi sensasi dengan perilaku seperti terlibat dalam kegiatan fisik yang berisiko. Komponen ini menggambarkan hasrat untuk berpartisipasi dalam olahraga atau aktivitas yang menyajikan sensasi yang tidak biasa. Sensasi yang tidak biasa ini berhubungan dengan olahraga atau aktivitas yang menghasilkan sensasi kecepatan atau melawan gravitasi seperti  panjat tebing, menyelam, terjun payung, bungge jumping dan skydiping.

2. Experience seeking (mencari pengalaman), adalah perilaku mengejar pengalaman baru melalui perjalanan, musik, seni, dan obat-obatan. Komponen ini menggambarkan hasrat seseorang untuk bertemu dan berteman dengan orang yang tidak biasa.

3. Disinhibition (rasa malu) merupakan fitur perilaku yang mengabaikan kendala sosial seperti terlibat dalam pertempuran, mencari stimulasi sosial melalui pesta, minum-minum, dan berganti-ganti pasangan seks.

4. Boredom Susceptibility (kerentanan terhadap kebosanan), mengukur tingkat keengganan terhadap pengalaman yang berulang, pekerjaan rutin atau sesuatu yang dapat diprediksi, dimana reaksinya bisa berupa rasa gelisah ketika dihadapkan situasi tersebut. Dengan kata lain, komponen ini menjelaskan tentang seberapa mudah bosan pada suatu keadaan, reaksi seseorang dalam menghadapi situasi dan aktivitas monoton atau membosankan (Lin & Tsai,2002).

Rabu, 11 Juni 2014

pendekatan-pendekatan dalam Psikologi Mengenai perilaku

Dalam kajian Psikologi umumnya terdapat lima pendekatan utama yang menjelaskan tentang perilaku manusia, dalam Pengantar Psikologi (Atkinson et.al., 1993):
 Pendekatan biologis
Perilaku manusia pada dasarnya dikendalikan oleh aktivitas otak dan sistem syaraf diseluruh bagian tubuh. Pendekatan biologis ini berupaya mengaitkan perilaku yang muncul dengan aktivitas yang terjadi di dalam tubuh berupa impuls listrik dan kimia yang terjadi organ yg sangat berpengaruh. Otak berhubungan langsung dengan perilaku, mengatur pola komunikasi dan gerak tubuh, menentukan jumlah informasi yang dapat ditampung dan dicerna. Serta otak berfungsi mengarahkan dan mengkordinir kerja sel tubuh sehingga mampu melihat, mendengar, berbicara, mengingat dan bertindak dengan tepat dan juga bertugas memproses informasi serta membuat keputusan.
 Pendekatan Behaviorisme
Suatu pandangan teoritis yang beranggapan bahwa yang bersifat positivistik dan empiristik dalam diri manusia, yaitu tingkah laku, tanpa mengaitkannya dengan konsepsi kesadaran/mentalitas. Menurut pendekatan behaviorisme ini, pada dasarnya tingkah laku adalah respon atas stimulus yang datang. Dapat digambarkan dalam model S R atau suatu kaitan antara stimulus dan respon. Ini berarti perilaku merupakan sebuah respon refleks tanpa kerja mental sama sekali dari stimulus yang dihadirkan. Pendekatan ini dipelopori oleh Watson kemudian dikembangkan oleh banyak ahli seperti B.F Skinner.
 Pendekatan kognitif
Pendekatan kognitif menekankan bahwa perilaku adalah proses menngingat dimana individu (organisme) aktif dalam menangkap, memilih serta membandingkan, dan menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi individu menergima stimulus lalu melakukan proses mental sebelun memberikan reaksi atas stimulus tersebut. Menurut pendekatan kognitif perilaku terdiri dari overt (tampak) dan yang tidak tampak (covert) seperti Pemrosesan Informasi, Determinasi Lingkungan melalui pemrosesan informasi dan pembentukan persepsi sehingga perilaku manusia bersifat didasari oleh motif dan pembentukan persepsi manusia bebas untuk mempersepsi dan menginterpretasi pengalamannya.
 Pendekatan Psikoanalisa
Pendekatan ini pertama kali dikenalkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Perilaku muncul berdasarkan tiga komponen (Id, ego dan super ego). Dimana Id yang muncul sebagai dorongan dari alam bawah sadar sehingga perilaku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, impuls, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan. Freud menyebutnya dengan “Sistem dinamis dari psikologi” mencari akar perilaku manusia dalam motivasi dan konflik yang tidak disadari.
 Pendekatan Fenomenologis

Pendekatan fenomenologis ini lebih memperhatikan pada pengalaman subjektif individu karena itulah perilaku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu terhadap diri dan dunianya, konsep tentang dirinya, harga dirinya, dan segala hal yang menyangkut kesadaran dan aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat perilaku seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya. 

Rabu, 14 Mei 2014

Anger (marah)

Pada dasarnya setiap individu-manusia memiliki emosi, emosi merupakan bagian dari hidup manusia. Emosi memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia karena emosi dapat mempengaruhi bagaimana manusia mengambil keputusan, membuat pertimbangan dan menentukan tindakan yang harus dilakukan. Ada banyak macam emosi menurut ________________ emosi dibedakan kedalam 5 emosi dasar sedih, senang, marah, jijik dan takut. Salah satu yang sering dihadapi adalah emosi marah, pada dasarnya marah merupakan hal yang wajar dan perlu dilakukan manusia dalam rangka mempertahankan dirinya. Menurut APA marah berarti “Anger is an emotion characterized by antagonism toward someone or something you feel has deliberately done you wrong. Anger can be a good thing. It can give you a way to express negative feelings, for example, or motivate you to find solutions to problems. But excessive anger can cause problems. Increased blood pressure and other physical changes associated with anger make it difficult to think straight and harm your physical and mental health.”.
Marah bisa menjadi emosi yang baik dan memberikan efek positif ketika dijadikan jalan untuk mengekspresikan perasaan negatif, dengan marah seseorang bisa mendapatkan energi untuk menyelesaikan masalahnya, memberikan suntikan energi untuk deal dengan situasi disekitarnya. namun ketika marah menjadi tidak terkendali marah bisa menjadi sumber masalah yang merugikan. Marah bisa menyebabkan penyakit jantung, karena pada saat marah tekanan darah meningkat dan perubahan fisik lainnya. Dan marah yang tidak terkendali pada banyak kejadian menjadi pemicu seseorang melakukan tindakan Agresi bisa merugikan oranglain dan terutama merugikan diri sendiri.
Kemarahan adalah reaksi alami dan fungsional untuk situasi yang dianggap mengaancam. Ketika kita belajar untuk mengelola secara efektif dan mampu mengarahkan kemarahan kita, kita dapat mengarahkan energi tersebut menjadi positif dan memberikan solusi untuk masalah kita sembari tetap menghormati orang lain dan terutama diri kita sendiri.
Marah menjadi menarik untuk dibahas karena hampir di semua kekerasan yang terjadi didahului oleh kemarahan yang meledak-ledak, kemarahan menjadi energi destruktif yang besar dan merugikan. Pada penelitian __________ anak-anak yang di biasakan dengan kemarahan yang besar dan disertai dengan agresi (verbal atau fisik) mereka sulit untuk melupakan memori tersebut dan itu berpengaruh terhadap hubungan anak-anak dengan orang tua (terutama orang tua laki-laki) menjadi rengang sampai usia dewasa.


Mendiagnosa dan mengobati individu dengan masalah amarah perhatian terhadap hal iitu telah meningkat baik bagi organisasi kesehatan, dokter, dan masyarakat secara keseluruhan. Untuk KDRT dan kasus kekerasan anak misalnya, pengadilan telah mulai untuk merujuk individu-individu yang terlibat kasus untuk ikut dalam "Treatmant Anger Management" terdapat kebutuhan yang besar untuk menempatkan terapis di pengadilan untuk mengobati orang yang marah, namun keterbatasan terapis belum memiliki pedoman yang banyak berbasis penelitian untuk mengenali, mendiagnosis, mengobati, atau mencegah kekerasan di masa depan. Karena kemarahan adalah yang paling umum menjadi precipitator kekerasan, cukup mengejutkan bahwa penelitian tentang kemarahan masih sedikit (Edmondson & Conger, 1996). Selanjutnya, meskipun kesadaran publik yang meningkat kemarahan sebagai masalah, belum adanya kategori diagnostik untuk membedakan marah. ( Beck & Fernandez, 1998).
Pengendalian emosi (anger management) adalah suatu tindakan untuk mengatur pikiran , perasaan, nafsu amarah dengan cara yang tepat dan positif serta dapat diterima secara sosial, sehingga dapat mencegah sesuatu yang buruk atau merugikan diri sendiri dan orang lain. Pengedaian marah berkaitan dengan bagaimana seseorang mengatur pola respon yang harus ia lakukan pada saat dihadapkan dengan situasi yang mentrigger kemarahan tersebut.

            Menurut Tice (dalam Goleman 1997) amarah merupakan emosi negatif yang paling sulit dikendalikan. Amarahlah yang paling menggoda diantara emosiemosi negatif yang lain. Berbeda dengan kesedihan, amarah menimbulkan semangat, bahkan menggairahkan. Menurut Goleman (1997) pengelolaan emosi adalah kemampuan untuk mengatur perasaan, menenangkan diri, melepaskan diri dari kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan, dengan tujuan untuk keseimbangan emosi (keseimbangan antara perasaan dan lingkungan). Alder (2001) menyebutkan bahwa pengelolaan emosi adalah suatu tindakan yang menyebabkan seseorang mengatur emosi atau mengelola keadaan. Kemampuan ini meliputi kecakapan untuk tetap tenang, menghilangkan kegelisahan, kesedihan atau sesuatu yang menjengkelkan. Orang dengan pengelolaan emosi yang baik akan mampu mengenali perasaannya dan mengatur penyaluran perasaan tersebut.